Ringkasan Faham Syi’ah

Ringkasan Faham Syi’ah



1. Faham Syi’ah.


Arti Syi’ah dalam bahasa arab adalah pengikut.
Syi’ah Ali berarti –menurut bahasa arab- “ pengikut Ali.

Tetapi arti “kaum syi’ah menurut istilah yang dipakai  dalam lingkungan ummat islam ialah kaum yang beri’tiqad bahwa saidina Ali adalah yang berhak menjadi khalifah pengganti nabi, karena nabi berwasiat bahwa pengganti beliau sesudah wafat adalah saidina Ali.

Kelanjutan dari i’tiqad ini maka khalifah-khalifah pertama, kedua dan ketiga yaitu saidina Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah

khalifah yang tidak sah, perampok-perampok yang berdosa, karena mengambil pangkat khalifah tanpa hak dari saidina Ali Kw.

Maka inti dari faham Syi’ah selanjutnya adalah :

  1. Pangkat khalifah pengganti nabi sesudah nabi wafat diwariskan oleh ahli waris nabi dengan jalan tunjukan dari nabi. Yang ditunjuk oleh nabi Muhammad Saw. Pengganti beliau sesudah beliau wafat adalah saidina Ali bin Abi Thalib Kw. Yaitu saudara sepupu nabi, menantu nabi, pahlawan islam yang berani, dan salah seorang dari sepuluh sahabt yang telah dikhabarkan oleh nabi akan masuk syurga.
  2. Barang siapa yang tidak menerima faham ini adalah orang terkutuk karena tidak mau menuruti wasiat nabi.
  3. Khalifah yang dalam istilah syi’ah “Imam”, adalah pangkat yang tertinggi dalam islam dan bahkan salah satu rukun dan tiang islam.
  4. Karena itu tidak mungkin pangkat itu dibiarkan begitu saja dan diserahkan saja kepada pilihan rakyat. Imam harus ditunjuk oleh nabi dan imam-imam yang lain ditunjuk pula oleh imam itu. Orang-orang yang memilih khalifah dengan jalan syurga (musyawarat) adalah orang-orang berdosa.
  5. Khalifah (imam) itu menurut faham syi’ah adalah “ma’shum” artinya tidak pernah membuat dosa dan tidak boleh diganggu gugat dan di kritik, karena ia adalah pengganti nabi yang sama kedudukannnya dengan nabi.
  6. Khalifah (imam) masih mandapat wahyu dari Tuhan, walaupun tidak dengan perantaraan jibril dan wahyu yang dibawanya itu wajib dita’ati. Imam-imam kaum syi’ah mewarisi pangkat nabi atau jabatan nabi walaupun ia bukan nabi.
  7. Itulah inti dari faham syi’ah, walaupun banyak yang lain menjadi kelanjutan dari faham itu.

2.      Keterangan Yang Keliru

Ada beberapa kaum orientalis (orang-orang barat yang suka menyelidiki dan menulis soal-soal islam) yang menerangkan bahwa faham syi’ah itu ialah faham yang mencintai saidina Ali Kw atau orang-orang yang mencintai ahli bait rasulullah.

Keterangan ini keliru, karena kaum Ahlussunnah dan bahkan seluruh ummat islam mencintai ahli bait khususnya saidina Ali Kw., terbukti dengan do’a shalat seluruh ummat islam, yaitu :

اللهما صلى على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

artinya ;” Ya Allah, shalawatlah atas penghulu kami “Muhammad” dan atas keluarga penghulu kami “Muhammad”,

Tersebut dalam kitab hadist :
دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم عليا و فاطمة و حسنا و حسينا فقال : اللهما هؤلاء اهلى
Artinya :” Rasulullah Saw. Memanggil saidina Ali, Fathimah, Hasan dan Husen, maka beliau berkata : Ya Allah, mereka inilah keluarga aku (H.S.R. Muslim, Syarah Muslim Juzu’ XV hal. 176).

Dan tersebut dalam hadist bukhari dan muslim :
عن سعد عن النبي صلى الله عليه وسلم انه قال لعلي : اما ترضى ان تكون منى بمنزلة هارون من موسى
Artinya :”Dari Sa’ad (bin Abi Waqash), beliau berkata : berkata Rasulullah kepada Ali : adalah engkau tidak suka, kalau engkau ditempatkan disisiku serupa dengan tempat yang diberikan kepada nabi Harun disisi Musa ?? (H.S.R. Bukhari- Shahih Bukhari II hal. 205-Syarah Muslim juz XV hal. 176).

Jadi, saidina Ali Kw. Diakui oleh nabi sebagai ahli-famili beliau dan diakui oleh nabi bahwa kedudukannya disisi nabi sama dengan kedudukan nabi harun disisi nabi Musa. Alangkah tingginya derajat beliau !
Dan pula, hampir seluruh ummat islam diseluruh dunia mendo’a dalam khutbah-khutbah jum’at begini :
وارض اللهما عن ليث بنى غالب امام المشارق والمغارب سيدنا علي ابن ابى طالب
Artinya :” Ya Allah, berilah keridhaan untuk pahlawan kami bani Ghalib, Imam orang masyriq dan maghrib, saidina Ali bin Abi Thalib !”

Apakah dengan membaca shalawat yang menunjukkan kecintaan kepada ahli bait Rasulullah dan apakah karena kita mendo’akan saidina Ali didalam khutbah kita akan menjadi orang syi’ah ?
Tidak, sekali lagi tidak, karena cinta kepada ahli bait dan khususnya mencintai saidina Ali adalah i’tiqad dan faham kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah juga.


3.      Saidina Ali Kw. Bukan syi’ah dan bukan imam kaum syi’ah saja.

Saidina Ali Kw., siti Fathimah Rda, Hasan dan Husen (cucu-cucu nabi) dan Abbas Bin Abdul Muthalib bukanlah kaum syi’ah karena beliau-beliau itu tidak sepaham dengan kaum syi’ah.
Sejarah telah membuktikan :
  1. Saidina Ali Kw. Dan siti Fathimah Rda. Ikut membai’ah (mengangkat) saidina Abu Bakar menjadi khalifah yang pertama, walaupun agak sedikit terlambat.
  2. Saidina ali Kw. Ikut membai’at khalifah yang kedua, yaitu saidina Umar Bin Khattab Rda.
  3. Saidina Ali kw. Ikut membai’at saidina Utsman, khalifah yang ketiga, walaupun beliau termasuk salah seorang calon untuk itu dan termasuk salah seorang anggota pemilih. Beliau tidak mencalonkan dirinya dan tidak memilih dirinya.


Andaikata kata ada wasiat nabi Muhammad saw. Kepadanya, bahwa yang harus menjadi khalifah sesudah nabi wafat adalah ia sendiri tentulah beliau tidak akan membai’at abu Bakar, Umar dan Utsman Rda.

Andai kata ada wasiat itu tentulah beliau kemukakan kepada sahabat-sahabat yang berkumpul di tsaqifah bani sa’idah untuk memilih khalifah yang pertama.
Saidina ali Kw. Mengetahui, bahwa nabi Muhammad saw. Sebelum wafat tidak ada berwasiat bahwa khalifah sesudah beliau meninggal adalah Ali.

Dalam kitab hadist bukhari, yaitu kitab yang dianggap oleh ummat islam sebagai kitab yang kedua sesudah Al-Qur’an tersebut begini :

عن عبد الله بن عباس ان علي ابن ابى طالب رضي الله عنه جرج من عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فى وجعه الزى توفي فيه فقال الناس : يا ابا حسن كيف اصبح رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ فقال : اصبح بحمد الله بارئا. فاخذ بيده عباس ابن عبد المطلب فقال له : انت والله بعد ثلاث عبد العصا وانى والله لارى رسول الله صلى الله عليه وسلم سوف يتوفى من وجعه هذا اني لاعرف وجوه بنى عبد المطلب عند الموت, اذهب بنا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فلنساله فيمن هذا الامر ؟ ان كان فينا علمنا ذلك وان كان في غيرنا علمناه فاوصى بنا. فقال علي : انا و الله لئن سألناها رسول الله صلى الله عليه وسلم فمنعناها لا يعطيناها الناس بعده وإنى و الله لا أسألها رسول الله صلى الله عليه وسلم.
Artinya :” dari sahabt nabi Ibnu Abbas, beliau mengkhabarkan, bahwasanya Ali Bin Abi Thalib keluar dari rumah nabi ketika beliau sakit akan wafat, maka orang bertanya kepada saidina Ali : Bagaiman keadaan Rasulullah ? saidina Ali menjawab : Alhamdulillah, beliau berangsur sembuh, pada ketika itu dipegang tangan saidina Abbas bin Abdul Muthalib lalu beliau berkata :” engkau sesudah tiga hari lagi akan menjadi “hamba tongkat” (akan diperintah orang lain) demi Allah saya tahu bahwa Rasulullah akan wafat dalam sakit ini, saya tahu keadaan maka anak-anak Abdul Muthalib pada ketika akan wafat. Ayo mari kita masuk kembali kepada Rasulullah dan kita tanyakan kepada beliau siapakah gerangan yang akan memegang jabatan ini sesudah beliau meninggal. Kalau kepada kita diserahkan maka kita sudah tahu dan kalau kepada orang lain maka kita pun sudah tau, atau (kita desak) beliau mewasiatkan untuk kita.
Saidina Ali menjawab : kalau kita minta dan nabi tidak memberikannya maka jabatan ini selamanya tidak akan diberikan orang kepada kita, demi Allah saya tidak akan memintanya kepada Rasulullah (H,S,R Imam Bukhari, “lihat Fathul Bari, Juz 9. Pagina 208”).

Nyatalah dalam keterangan yang disebutkan dalam kitab bukhari ini, bahwa Ali tak pernah menerima wasiat dari nabi untuk menjadi khalifah, bahwa nabi tak pernah menunjuk saidina Ali sebagai khalifah yang pertama, bahwa ali, Abbas dan Ibnu Abbas (qarib-qarib nabi yang terdekat) tidak pernah meminta-minta jabatan khalifah kepada nabi.

Dapat juga dipetik dari keterangan ini bahwa saidina ali bukanlah orang yang berfaham serupa faham syi’ah yang mengi’tiqadkan bahwa jabatan imam adalah dari tunjukan nabi, dan bahwa beliau ditunjuk oleh nabi untuk jabatan itu.

Karena itu dapat disimpulkan bahwa saidian Ali buka penganut pahan syi’ah, bukan termasuk golongan syi’ah, dan bukan imam kaum syi’ah saja, tetapi juga imam kaum ahlussunnah Wal Jama’ah dalam arti yang luas.

4.      Abu Dzar Bukan Penganut Faham Syi’ah

Dalam buku yang ditulis oleh orang-orang barat dan kadang-kadang diover oleh penulis-penulis Islam bahwa benih-benih syi’ah sudah dipunyai oleh sahbat-sahabat. Nabi pada waktu beliau masih hidup.

Diantara orang yang berfaham macam itu terdapat sahabat yang utama, yaitu abu dzar, salman farisi, muqdad, dan lain-lain, kata mereka.

Keterangan ini tidak mempunyai sandaran yang kuat kalau tak akan dikatakan keterangan palsu yang tidak benar.

Abu Dzar dan kawan-kawan beliau itu tidak pernah berfaham bahwa nabi berwasiat kepada ali tentang khalifah, bahwa khalifah harus turun temurun dari anak ke cucu dan lain-lain sebagainya seperti faham syi’ah.

Mungkin ada sahabt nabi yang berfaham bahwa saidina ali lebih mulia dari Abu Bakar karena beliau saudara nabi dan menantu nabi, tetapi mereka bukan berfaham bahwa khalifah sesudah nabi wafat mesti saidina Ali.

Buktinya mereka semuanya membai’ah (mengangkat) saidina Abu Bakar Rda. Menjadi khalifah yang pertama.

5.      Rapat Saqifah Bani Sa’idah

Nabi Muhammad Saw. Setelah selesai mengerjakan tugas menyampaikan wahyu ilahi selama 23 tahun, meninggal dunia pada tanggal 12 rabiul awal tahun 11 hijriyah, bertepatan dengan 8 juni tahun 632 Masehi.

Beliau, nabi Muhammad Saw. Tidak berwasiat siapakah yang akan menggantikan beliau sesudah wafat dan tidak pula memberikan petunjuk bagaimana cara-caranya memilih pengganti beliau itu.

Rupanya hal ini diserahkan kepada kebijaksanaan ummat islam saja sesuai dengan keadaan masa dan tempat dan sesuai dengan situasi ketika itu.

Memang ada Nabi menyuruh Saidina Abu Bakar menjadi Imam sembahyang pada ketika beliau sakit, begitu juga pernah nabi menyuruh saidina Ali menjaga kampung halaman pada ketika beliau pergi berperang, akan tetapi hal ini tidak langsung mengenai khalifah yang akan mengganti beliau sesudah wafat.

Maka pada hari wafatnya nabi Muhammad Saw,  spontan sahabat-sahabat terkemuka, orang-orang anshar (0rang madinah), dan orang-orang muhajirin (orang yang pindah dari mekkah ke madinah) berkumpul disuatu balai yang bernama saqifah bani sa’idah.

Saidina Abu Bakar dan saidina umar, sahabat-sahabat nabi yang utama pula datang kesitu, ikut berkumpul bersama-sama dengan kaum anshar dan muhajirin.

Saidina Ali Kw. (menantu nabi dan saudara sepupu nabi) tidak datang kerapat itu, karena beliau sibuk dirumah mengurus jenazah nabi yang belum dimakamkan.

Dalam rapat itu kaum anshar mencalonkan Sa’ad Bin Ubaidillah (orang Madinah) untuk menjadi khalifah, sedangkan orang-orang Muhajirin mencalonkan Abu Bakar, Umar Bin Khatab atau Abu Abaidah Ibnu Jarrah.

Adapun Saidina Ali tidak ada yang mencalonkan beliau, mungkin umur beliau masih sangat muda ketika itu.

Sesudah sedikit ada perdebatan yang tajam antara kaum anshar dan kaum muhajirin, sepakatlah mereka dalam memilih Abu Bakar sebagai Khalifah yang pertama pengganti nabi.
Sebagaimana dikatakan diatas, saying sekali Saidina Ali tidak menghadiri acara tersebut karena sibuk dirumah, tidak hadirnya beliau bukan karena beliau enggan, tetapi karena soal teknis saja, yaitu karena sibuk mengurus jenazah Rasulullah.

Memang dapat dikatakan pula bahwa saidina Ali dan istri beliau Siti Fathimah, sedikit kurang senang kepada acara rapat musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah itu, karena beliau-beliau ini ada yang berpendapat bahwa ada baiknya bila mengurus jenazah nabi lebih dahulu daripada menetapkan siapa yang menjadi khalifah.

Tetapi sahabat-sahabat nabiyang utama yang berkumpul di saqifah bani sa’idah berpendapat, bahwa pemilihan khalifah sangat mendesak dan perlu disegerakan, guna mencari pemimpin yang akan memimpin acara pemakaman nabi dan juga untuk jangan vakum terhadap kekuasaan sehingga dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Demi untuk menjaga keutuhan dalam lingkungan ummat islam, pemilihan khalifah pengganti nabi harus dikerjakan secepatnya, agar jangan terjadi perpecahan, begitulah jalan fikiran sahabat-sahabat nabi yang berkumpul di saqifah bani sa’idah ketika itu.

6. Saidina Ali Membai’ah

Saidina ali dan siti fathimah tidak lama sesudah itu lantas membai’ah, ya’ni mengangkat dan memberikan suara setuju atas pengangkatan saidina Abu Bakar menjadi khalifah yang pertama.

Setelah beberapa hari saidina Abu Bakar menjadi khalifah, lantas beliau memanggil saidina Ali dan bertanya : “Hai Abu Hasan, apakah saudara tidak suka kalau saya menjadi khalifah pengganti nabi ?
Jawab saidina Ali :”demi Allah ! bukan begitu persoalannya, saya bersumpah tidak akan memakai selendangku sebagai orang yang kematian kecuali untuk hari jum’at”.
Kemudian beliau membai’ah dan memberikan suara. (Tarikhul Qur’an, karangan Ibrahim Al-Abyari, halaman 91).

Jadi bagi saidina Ali dan siti Fathimah persoalan khalifah itu tidak menjadi suatu persoalan yang menjadi keberatan.

Siti Fathimah Az-Zahra binti Rasulullah meninggal dunia 6 bula sesudah wafatnya nabi dengan meninggalkan dua orang putra, Hasan dan Husein.

Siti Fathimah, tidak terlibat sama sekali dalam persoalan syi’ah ini, walaupun kemudian ada kerajaan syi’ah di mesir yang menamakan kerajaannya dengan “kerajaan Fathimiyah”.
Ini perlu ditegaskan agar jangan ada persangkaan bahwa siti Fathimah anak Rasulullah ikut dalam gerakan Syi’ah yang salah ini.

Khalifah Abu Bakar memimpin selama 2 tahun 3 bulan dan 10 hari. Beliau wafat pada jumadil akhir tahun 12 hijriyah.

Pada ketika beliau mulai sakit, sesudah melakukan musyawarah sahabat-sahabat nabi yang lain, beliau menunjuk, mengusulkan untuk pengganti beliau sahabat nabi yang utama yaitu saidina Umar Bin Khatab Rda.

Calon yang dimajukan oleh saidina Abu Bakar ini diterima oleh seluruh kaum muslimin, termasuk saidina Ali Kw.

Mereka semuanya membai’ah, mengangkat dan menyetujui bahwa khalifah ke II adalah saidina Umar Bin Khatab.

Pada ketika itu tidak seorang pun sahabat nabi yang tampil kemuka untuk mencalonkan Saidina Ali Kw, begitu juga tidak seorang pun yang mengatakan bahwa nabi pernah berwasiat supaya khalifah pengganti beliau adalah saidina Ali Kw.

Dalam masa pemerintahannya, saidina Umar Bin Khatab pernah pergi ke baital maqdis untuk menyaksikan penyerahan kota itu ke tangan orang islam dari kerajaan romawi timur, maka untuk pengganti beliau di Madinah selama perjalanan, beliau menunjuk Saidina Ali Bin Abi Thalib Kw.

Kejadian ini adalah suatu fakta, bahwa saidina Ali adalah orang yang patuh kepada Khalifah yang kedua, Saidina Umar Bin Khatab.

Pemerintah Saidina Umar berjalan selama 10 tahun 6 bulan, beliau wafat tanggal 16 Zulqaedah tahun 23 hijriyah.

Sebelum beliau berpulang ke rahmatullah maka beliau menunjuk sebuah panitia untuk memilih pengganti beliau sebagai khalifah yang ketiga sesudah nabi.
Anggota panitia itu adalah :
  1. Saidina Ali Bin Abi Thalib Kw.
  2. Saidina Utsman Bin ‘Affan Rda.
  3. Zubeir Bin ‘Awam Rda.
  4. Sa’ad Ibnu Abi Waqash Rda.
  5. Abdurrahman Bin ‘Auf Rda.
  6. Thalhah Bin ‘Ubaidillah Rda.
  7. Abdullah Bin Umar Rda.

Saidina Umar berwasiat agar panitia ini memilih salah seorang daripadanya menjadi khalifah ke III, kecuali anaknya Abdullah Bin Umar Rda, jangan dipilih.

Setelah saidina Umar wafat maka panitia ini, termasuk Saidina ‘Ali, bersidang memilih khalifah, yang kemudian jatuhlah pilihan kepada Saidina Utsman Bin ‘Affan Rda.

Melihat kejadian sejarah ini bertambah yakinlah kita, bahwa nabi tidak pernah berwasiat supaya saidina Ali pengganti beliau, karena andaikata wasiat itu ada, tentulah saidina Ali akan mengemukakannya dalam rapat panitia pemilihan khalifah yang ketiga ini apalagi beliau ikut menjadi anggota panitia itu.

Dan lagi, andaikata ada wasiat itu sudah tentu beliau tidak memilih saidina Utsman Rda.
Saidina ali Kw, membai’ah kepada tiga orang khalifah sesudah nabi, khalifah Abu Bakar, Umar Bin Khattab, dan Utsman Bin ‘Affan.

Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa Saidina Ali bukanlah kaum syi’ah yang berfaham bahwa nabi Muhammad Saw, berwasiat bahwa pengganti beliau adalah saidina Ali, tetapi saidina Ali termasuk golongan Kaum Ahlussunnah Waljama’ah yang berfaham dan beri’tiqad bahwa khalifah-khalifah itu harus dipilih dengan jalan syura, dan bahwa khalifah-khalifah itu orang biasa, bukan nabi dan bukan pula ma’shum, bukan penerima wahyu lagi sebagai yang difahamkan kaum syi’ah yang salah itu.

7.       Abdullah Bin Saba’ Biang Keladi Gerakan Syi’ah.

Ada seorang pendeta yahudi dari yaman masuk agama islam, namanya Abdullah Bin Saba’. Sesudah ia masuk Islam lantas dating ke Madinah pada akhir-akhir tahun kekuasaan khalifah Saidina Utsman Bin ‘Affan, yaitu sekitar tahun 30 H.

Orang ini kebetulan tidak begitu mendapat penghargaan dari khalifah Utsman Bin ‘Affan Rda, dan orang-orang besar di Madinah sebagaimana yang diharapkannya. Ia menyangka pada mulanya bahwa kalau ia dating ke Madinah ia akan disambut dengan kebesaran sebab dia adalah seorang pendeta besar dari yahudi yaman yang masuk islam.
Harapannya ini meleset, maka karena itu ia agak sedikit tersinggung.

Sebahagian ahli sejarah mengatakan bahwa masuknya Abdullah Bin Saba’ kedalam islam adalah dengan tujuan untuk mengacaukan islam dari dalam, karena mereka tak sanggup mengacaukan islam dari luar.

Pada mulanya ia benci kepada khalifah Saidina Utsman karena khalifah tak menyambutnya. Ia membangunkan gerakan anti saidina Utsman dan berusaha meruntuhkannya dan menggantikannya dengan Saidina ‘Ali Kw.

Usaha Abdullah Bin Saba’ ini mendapat pasaran di kota-kota besar ummat islam ketika itu, seperti di Madinah, di Mesir, Di kuffah, di Bashrah dan lain-lain, karena kebetulan orang-orang sudah banyak pula yang tidak sesuai dengan saidina Utsman, karena beliau menghilangkan cincin stempel nabi Muhammad Saw. Dan beliau juga banyak mengangkat orang-orang dari suku beliau, yaitu orang-orang bani umayyah menjadi pengusaha-pengusaha daerah.

Demi untuk menjatuhkan dan mengalahkan saidina Utsman Rda, Abdullah Bin Saba’ pergi ke mesir, ke kuffah, ke bashrah, ke damsyiq dan lain-lain, untuk membuat sebuah propaganda tentang keagungan Saidina Ali Kw.

Abdullah Bin Saba’ sangat berlebih-lebihan mengagung-ngagungkan Saidina Ali dan sangat berani membuat hadist-hadist palsu yang tujuan mengangungkan begitu rupa dan merendahkan saidina Utsman, saidina Umar Bin Khatab dan saidina Abu Bakar, yaitu khalifah-khalifah yang terdahulu.

Diantara ajaran Abdullah Bin Saba’ adalah :
  •  Al-Wishayah.

Arti al-wishayah adalah wasiat. Nabi Muhammad Saw berwasiat supaya khalifah (Imam) sesudah beliau ialah saidina Ali Kw,saidina Ali terkadang-kadang digelari mereka “AL- WASHIY”, yaitu orang yang diberi wasiat.
  •  Ar-Raj’ah.

Artii Ar-Raj’ah adalah kembali. Bin Saba’ mengajarkan bahwa nabi Muhammad Saw, tidak boleh kalah dari nabi Isa ‘alaihissalam, kalau nabi isa kembali pada akhir zaman untuk menegakkan keadilan, maka nabi Muhammad lebih patut untuk kembali di akhir zaman untuk menegakkan keadilan. Ia tidak percaya bahwa saidina Ali mati terbunuh, beliau masih hidup katanya.

Berkata seorang ahli tarikh, ibnu hazm : “Bin Saba’ mengatakan pada ketika dikabarkan kepadanya bahwa saidina Ali kena meninggal kena tusuk, ia berkata :” kalau kamu bawa otaknya seribu kali kemari, saya tidak percaya bahwa ia telah meninggal. Ia belum mati sebelum ia memenuhi dunia ini dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi orang dengan kezaliman.

Abdullah Bin Saba’ mengajarkan bahwa saidina Ali belum mati tetapi bersembunyi dan akan kembali pada akhir zaman.

Ajaran ini dibawanya dari kepercayaan kaum yahudi yang mengajarkan bahwa nabi ilyas juga belum mati. Ajaran Abdullah Bin Saba’ inilah yang kemudian menjadi ajaran Syi’ah bahwa seorang imamnya yang penghabisan belum mati, sekarang sedang bersembunyi dan akan kembali di akhir zaman untuk menegakkan keadilan dan kebenaran (lihat kitab Fajar Islam karangan Ahmad Amin, hal : 270).
  • Ketuhanan ‘Ali.

Ibnu saba’ juga mengajarkan bahwa dalam tubuh Ali bersemayam unsure ketuhanan yang sudah bersatu padu dengan tubuh Ali, karena itu beliau mengetahui segala yang ghaib, karena itu selalu menang di dalam perang melawan orang kafir, suara petir adalah suara ‘Ali dan kilat adalah senyuman ‘Ali.

Pendeknya saidina ‘Ali Rda. Diangkat oleh Ibnu Saba’ dan oleh orang-orang syiah diatas kedudukan Tuhan, Na’uzubillahi.

Nah, Ibnu saba’ inilah yang menaburkan faham Syi’ah yaitu yang keterlaluan dalam mengagungkan Saidina ‘Ali.

Timbul rasa malu sewaktu melihat pendapat-pendapat Ibnu saba’  ini, maka sebahagian kaum syi’ah mengatakan bahwa Bin Saba’ itu sebenarnya orangnya tidak ada, kabar itu hanya dibuat-buat saja oleh orang-orang yang anti syi’ah, tetapi menurut -  Ahmad Amin - , keingkaran orang-orang syi’ah sekarang tidak beralasan, karena kitab-kitab lama sejarah islam menjelaskan adanya Abdullah Bin Saba’. Kaum syi’ah mendustakan adanya Ibnu Saba’ karena malu melihat ajaran-ajarannya yang keji ini.

Tetapi pengarang kitab “Syarah Nahjul Balaghah”, ibnu habil hadid, seorang ulama dan pengarang ulung dari kaum syi’ah/mu’tazilah, wafat tahun 656 H. mengakui adanya Bin Saba’ ini adalah seorang pendeta Yahudi yang masuk islam yang mengobarkan faham syi’ah sabaiyah (lihat syarah nahjul balaghah juzu’ VIII, hal : 120).

Dan diantara gembong syi’ah sabaiyah ini terdapat seorang yang bernama Mugirah Bin Sa’id yang menfatwakan bahwa zat Tuhan bersemayam di dalam tubuh saidina Ali Kw, beliau dapat menghidupkan kembali ‘Ad dan Tsamud.

Dan juga terdapat seorang gembong syi’ah yang bernama Ishaq Bin Zaid yang menfatwakan, bahwa orang-orang syi’ah yang sudah sampai ke derajat tinggi sudah habis taklif baginya, yaitu tidak perlu sembahyang, puasa dan lain-lain (lihat syarah najlul balaghah, juzu’ VIII, hal : 122).

Boleh dipastikan bahwa Bin saba’ penggerak perama dan yang utama dalam hal memberontak terhadap khalifah ketiga Saidina Utsman Bin ‘Affan Rda.

Nasib Bin Saba’ ini pada akhir hayatnya menjadi orang buangan yang dibuang saidina Ali Kw, sesudah beliau menjadi khalifah.

Pada suatu hari ia datang kepada saidina ‘Ali dan mengatakan kepada beliau :”Anta, anta” (engkau-engkau) ya’ni : engkaulah yang Tuhan.

Saidina Ali marah kepadanya dan ditangkap, lalu dibuang ke Madain (lihat Al Milal Wan Nihal Juz, 1, Hal : 174).

8.       Gerakan Syi’ah Pada Masa 3 Orang Khalifah.

Dapat dipastikan sekali lagi bahwa pada zaman khalifah Abu Bakar Rda, yaitu dari tahun 11 H sampai tahun 13 H, begitu juga pada zaman khalifah saidina Umar Bin Khatab yaitu dari tahun 13 H sampai tahun 23 H. gerakan dan faham syi’ah tidak ada, karena zaman itu adalah zaman yang paling dekat dengan Rasulullah Saw, orang-orangnya adalah sahabat nabi yang berilmu yang tidak mudah dikotak katik oleh faham sesat. Para sahabat yang terkemuka dan Jumhur Ulama islam (jumhur artinya orang-orang pembesar yang banyak) tidak menerima faham syi’ah ini. Apalagi faham yang menentang saidina Abu Bakar Shiddiq dan saidina Umar Bin Khatab Rda.

Mereka semuanya berpendapat bahwa pengangkatan khalifah Abu Bakar adalah sah, pengangkatan saidina Umar adalah sah, dan pengangkatan saidina Utsman juga sah. Dan nabi Muhammad Saw tidak pernah berwasiat tentang siapa yang akan ganti beliau ketika berpulang ke rahmatullah.

Beliau berpendapat bahwa pengangkatan khalifah dengan cara “syura”, cara musyawarah pada pertemuan saqifah bani sa’idah adalah sesuai dengan tuntunan islam, yaitu “musyawarah” yang dituntut oleh agama dalam Al-Qur’an surat Syura ayat 38.

Khalifah berganti dari saidina umar bin khatab kepada saidina utsman bin affan dari tahun 25 H. Sampai 35 H. Saidina Utsman bin Affan adalah seorang yang saleh, yang sibuk bukan saja mengatur negara dan pemerintahan tetapi juga sibuk mengumpulkan ayat-ayat suci sehingga dijadikan dalam satu mashaf yang sampai sekarang dinamai dengan mashaf ustmani Rda, sebagai kitab suci yang ada sampai sekarang.

Pada 5 tahun yang akhir dari kekuasaan saidina Utsman bin Affan, yaitu dari tahun 30 H. Sampai 35 H. Faham Syi’ah muncul dan agak mendapat pasaran juga.

Maka berkobar-kobarlah faham anti utsman, dan anti khalifah-khalifah yang sebelum saidina Utsman.

Mereka mengatakan yang bahwa yang berhak menjadi khalifah sesudah wafatnya nabi Saw adalah Saidina Ali Kw, kata mereka “Abu Bakar telah merampas hak khalifah yang sah, begitu juga pengganti-penggantinya yaitu Umar dan Utsman Rda.

Mereka kaum syi’ah tidak mau mengucapkan “Radhiyallahu ‘anhu” untuk Abu Bakar, Umar dan Utsman, tetapi mereka mengutuk ketiga khalifah itu dengan mengatakan “Qatalallahu man qatala ahlil bait”, artinya : Allah akan mengutuk orang-orang yang memerangi keluarga nabi.

Mereka menuduh bahwa Abu bakar, Umar dan Utsman adalah orang-orang yang memerangi keluarga nabi (memerangi ahlil bait).

Abdullah Bin Saba’ adalah seorang pendeta yahudi yang masuk islam yang memberontak melawan khalifah saidina Utsman dan membunuh Saidina Utsman pada tahun 35 Hijriyah.


9.       Saidina Ali Diangkat Menjadi Khalifah.

Pada ketika itu setelah khalifah yang ketiga mati terbunuh oleh kaum Syi’ah, maka kaum pemberontak tersebut, begitu juga dengan kaum yang tidak memberontak, sepakat untuk mengangkat Saidina Ali menjadi khalifah yang ke empat.

Saidina Ali bagi kaum syi’ah adalah khalifah yang pertama, karena mereka tidak mengakui khalifah-khalifah yang sebelumnya, tetapi bagi Ummat Islam, kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah, saidina Ali adalah khalifah yang ke empat.

Saidina Ali Kw, bagi kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah tidaklah  dianggap sebagai orang yang bersalah, karena saidina Ali mengakui dan memberikan suara kepada khalifah-khalifah sebelumnya, beliau bukanlah Syi’ah.

Hanya kaum syi’ah saja yang mengangung-agungkan beliau melebihi dari semestinya, umpamanya dikatakan Saidina Ali itu adalah Imam yang mendapat wahyu langsung dari Tuhan, Imam yang berpangkat kenabian dan bahkan ada sebahagian kaum syi’ah yang mengatakan bahwa beliau pada hakikatnya adalah nabi yang dituju oleh Tuhan, tetapi malaikat jibril tersalah memberikan wahyu sehingga diturunkannya kepada Muhammad.

Maka khalifah pada saat itu dipegang oleh Saidina Ali Kw, dari tahun 35 H. Sampai 40 H.

Pada masa khlifah Saidina Ali inilah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

10.   Golongan-golongan Yang Timbul Pada Zaman Saidina Ali Kw,

Pada masa pemerintahan Saidina Ali Kw, terjadi hal-hal yang sangat mengecewakan Ummat Islam, bukan disebabkan leh Saidina Ali, tetapi karena situasi dan kehendak sejarah yang sudah akan berjalan sedemikian rupa.

Ada 4 golongan :
  1. Golongan syi’ah dan sebahagian orang madinah yang mendukung pengangkatan khalifah Saidina Ali.
  2. Golongan saidina Mu’awiyah Ibnu Abi Sofyan, yang tidak mengakui khalifah Ali dan menganggap saidina Ali bersalah dan ikutu campur dalam pembunuhan terhadap saidina Utsman. Golongan Saidina Mu’awiyah di syriya ini mengangkat Saidina Mu’awiyah menjadi khalifah pengganti Utsman bin Affan. Maka terjadilah dua orang khalifah, yang satu di Madinah yaitu Saidina Ali dan yang satunya lagi di Syria yaitu Saidina Mu’awiyah Rda.
  3. Golongan ketiga yang dikepalai oleh Siti Aisyah Ummul Mu’minin, golongan ini tidak mengakui pengangkatan Saidina Ali karena pengangkatan secara paksaan, dan tidak menyalahkan pula saidina Ali dalam soal pembunuhan Saidina Utsman, khalifah yang ketiga.
  4. Golongan keempat yang dikepalai oleh Abdullah bin Umar anak saidina Umar Bin Khatab (khalifah yang kedua), dan diikuti oleh beberapa sahabat-sahabat yang lainnya, golongan ini tidak ikut dalam mengangkat Saidina Ali sebagai khalifah, tidak menyalahkan Saidina Ali dalam pembunuhan terhadap Utsman Bin Affan dan juga tidak ikut dalam mendukung Saidina Mu’awiyah di damaskus. mereka lebih suka menjauhi dari politik.
Namun semua firqah ini semuanya benar, tidak boleh kita menyalahkan salah satu antara mereka, kecuali kaum syi’ah la’natillah ‘alaih.

Hanya saja terjadi perselisihan antara firqah-firqah ini karena disebabkan kesalah fahaman terhadap pembunuhan saidina Utsman oleh kaum Syi’ah, mereka semua merupakan sahabat rasulullah, dimana apabila hasil ijtihad (pemahaman mereka) benar maka Allah akan memberikan dua pahala, namun bila hasil ijtihad mereka salah maka Allah akan memberikan satu pahala.

11.   Peperangan Sesama Islam.

Khalifah yang keempat yaitu Saidina Ali Kw, menghadapi tugas yang sangat berat sekali, beliau bukan saja menghadapi soal-soal negara, soal-soal pertahan dan perluasan islam, tetapi juga persoalan perpecahan antar islam di dalam negeri.

Maka terjadilah peperangan yang dinamakan dengan “Perang Jamal”, yaitu antara tentara saidina Ali dengan tentara siti ‘Aisyah.

Peperangan ini terjadi pada tahun 36 H., yaitu setahun sesudah saidina ‘Ali menjabat pangkat khalifah, peperangan ini dinamai dengan “peperangan jamal (onta)” karena para tentara siti Aisyah mengutus laskarnya dengan mengendari onta.

Peperangan ini bukanlah suatu peperangan yang kecil, Saidina Ali memebawa tentaranya sebanyak 200.000 orang, dan siti Aisyah juga membawa tentaranya dengan jumlah yang sama.

Akhirnya siti Aisyah kalah, dan beliau ditahan oleh Saidina Ali. Tetapi walaupun siti Aisyah ditawan oleh Saidina Ali, namun beliau tidak dijadikan orang tawanan, tetapi dihormati sebagai ibu dan diantar kembali ke Mekkah dengan segala kehormatan.

Menanggapi peperangan jamal ini terjadi perselisihan antara kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan kaum syi’ah.

Kaum Ahlussunnah berpendapat bahwa perselisihan faham antara Saidina Ali dan Ummul Mu’minin siti Aisyah adalah perselisihan antara Imam Mujtahid dengan Imam Mujtahid, yang dijamin oleh nabi dalam sebuah hadist bahwa yang ijtihadnya betul dapat dua pahala dan kalau ijtihadnya tersalah maka dapat satu pahala.

Kelanjutan dari faham ini bahwa sekaalian yang meninggal dalam “peperangan jamal” baik laskar Saidina Ali atau laskar Siti Aisyah kedua-duanya mati syahid dan masuk syurga yang sama, karena setiap keduanya mempertahankan kebenaran agama yang didapat oleh ijtihadnya masing-masing.

Tetapi kaum syi’ah imamiyah berfatwa bahwa sekalian orang yang ikut perang jamal di pihak Siti Aisyah kafir, baik pemimipinnya ataupun anak buahnya, karena mereka memberontak kepada khalifah yang sah yaitu Saidina Ali.

Dan sebahagian kaum syi’ah mu’tazilah berpendapat bahwa sekalian yang dipihak Siti Aisyah adalah salah, akan dimasukkan ke dalam neraka, kecuali orang yang taubat kemudian. Siti Aisyah, Thalhah dan Zubeir adalah orang yang sudah bertaubat kemudian dan membai’ah kepada Saidina Ali, oleh karena itu ketiga sahabat ini masuk syurga sedangkan anak buahnya masuk neraka.

Faham yang benar adalah faham kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah yang membenarkan perselisihan ijtihad itu.

Berkata Ibnu Ruslan, seorang ulama Syafi’iyyah golongan Ahlussunnah dalam kitab zubad yang masyhur :

وما جرى بين الصحابى نسكت   *   عنه واجر الاجتهاد نثبت

Artinya :”apa yang terjadi antara sahabat-sahabat nabi lebih baik kita diam, tidak memperbincangkannya dengan mendalam, tetapi pahala ijtihad kita tetapkan didapat oleh kedua belah pihak.

Berkata imamul Haramain, seorang ulama sunni dan guru Imam Ghazali setelah beliau mendengar orang syi’ah memperbincangkan peperangan-peperangan antara para sahabat dan mengutuk salah satu pihak yang bertentangan :

“bahwasanya Rasulullah Saw melarang hal ini, nabi berkata : jauhilah olehmu memperbincang-bincangkan apa yang terjadi antara sahabatku.

Dan beliau berkata lagi : biarkanlah saya mengurus sahabat-sahabat saya itu, kalau kamu nafkahkan emas sebesar bukit Uhud engkau belum dapat menyamai mereka atau menyamai setengah mereka, dan berkata nabi : sahabat-sahabat ku serupa bintang, yang mana saja kamu ikut itu sudah baik, kamu akan mendapat hidayah karena mengikutinya.

Dan berkata nabi : kurun yang baik adalah kurun saya, sesudah itu yang dibelakangnya, yang dibelakangnya lagi dan seterusnya lagi.

Sesungguhnya telah diriwayatkan, bahwa Syaikh Hasan Bashri tatkala diingatkan orang kepada beliau tentang “peperangan jamal”, beliau berkata : itu adalah darah yang tuhan telah menjauhkan dari pedang kita, dan karena itu janganlah dikotori lagi lidah kita dengan darah itu.

Kesimpulan : Kaum Ahlussunnah menahan diri dan menahan lidah tentang soal ini yang terjadi diantara sahabat-sahabat yang mulia, dan menetapkan bahwa persengketaan itu dilakukan menurut ijtihad mereka masing-masing,dimana kalau ijtihad mereka benar disisi Allah maka mereka mendapat dua pahala, dan kalau salah disisi Allah maka mereka mendapat satu pahala.

Tetapi kaum Syi’ah tetap bersikeras, mereka mengatakan Saidina Mu’awiyah dan siti Aisyah beserta tentara-tentara mereka semuanya bersalah, kaum syi’ah mengatakan kepada mereka dengan sebutan “iblis yang boleh dikutuk, na’uzubiillah !!


12.   Peperangan Siffin.

Kemudian pada tahun 37 H. Terjadilah apa yang dinamakan dengan “peperangan Siffin” yang terkenal, diantara Saidina Ali dan pasukan Mu’awiyah di suatu tempat di Iraq yang bernama “Siffin”.

Peperangan ini besar juga, terbukti dengan banyaknya korban, di pihak Saidina Ali, gugur laki-laki 25.000 orang dan di pihak Saidina Mu’awiyah gugur laki-laki 45.000 orang.

Inilah suatu musibah yang besar bagi ummat Islam pada abad-abad yang pertama.

Jalannya peperangan ini menguntungkan Saidina Ali, hampir seluruh pasukan Saidina Mu’awiyah mundur dari peperangan, akan tetapi mereka menjalankan siasat, yaitu menyerukan “perhentian tembak menembak”, mereka mengikatkan beberapa ayat suci Al-Qur’an di ujung tombak mereka dan mengangkatkan keatas sambil meneriakkan perhentian tembak menembak dan berhukum kepada Al-Qur’an.

Saidina Ali pada mulanya tidak mau menerima ajakan ini, karena beliau tau hal itu adalah suatu siasat dari orang yang hampir kalah, minta menghentikan peperangan sebentar untuk menyusun kekuatan kembali.

Tetapi Saidina Ali didesak oleh sebahagian tentaranya, sehingga ada yang mengatakan kepada beliau “kenapa kita tidak mau berhukum kepada Al-Qur’an ?”.

Akhirnya Saidina Ali menerima tawaran “perhentian tembak menembak”, dan berhentilah peperangan, pasukan saidina Ali pulang ke baghdad dan pasukan saidina Mu’awiyah pulang ke damaskus.

Disusunlah delegasi kedua belah pihak untuk melanjutkan perundingan, pihak Saidina Ali menyusun delegasi dibawah pimpinan Abu Musa Al-Asy’ari, dan pihak saidina Mu’awiyah menyusun delegasi dibawah pimpinan ‘Amru Bin ‘Ash.


13.   Kaum Khawarij Sejak Itu Timbul.

Tetapi disayangkan lagi, ketika itu ada sebahagian pasukan saidina Ali yang berbelot, mereka tidak menyukai berhukum kepada Al-Qur’an sebagai yang diserukan oleh pasukan Saidina Mu’awiyah karena mereka berfaham :
  1. Berhukum kepada Al-Qur’an itu hanyalah ucapan bibir saja, tetapi pada hakikatnya mereka akan berhukum kepada delegasi yang berunding.
  2. Menerima perhentian tembak menembak itu berarti ragu atas kebenaran pendirian. Kita pada mulanya meyakini bahwa pendirian kita ini benar dan peperangan kita ini berjalan diatas kebenaran, demi menegakkan kebenaran dan keadilan, tetapi setelah kita mau berhenti dan setelah kita mau berhukum kepada delegasi maka berarti kitra ragu atas pendirian kita, demikian kata kaum khawarij.
  3. Orang yang ragu-ragu itu tidak berhak menjadi Imam, kata mereka.

Golongan ini bernama “kaum khawarij”,rtinya orang yang keluar dari kedua belah pihak.
Mereka keluar dari pihak Saidina Ali dan juga keluar dari pihak Saidina Mu’awiyah, mereka membenci kedua-duanya. Inilah asala usul timbulnya kaum khawarij.


14.   Masalah Tahkim.

Kita lanjutkan masalah Tahkim.
Lalu diadakan “Majlis Tahkim” yaitu sebuah badan yang akan menyelesaikan pertikaian antara Saidina ‘Ali dengan Saidina Mu’awiyah Rda, setiap delegasi memounyai 100 orang anggota.

Kelompok Saidina Mu’awiyah diketuai oleh ‘Amru Bin ‘Ash, seorang ahli siasat yang pandai, sedangkan kelompok Saidina ‘Ali diketuai oleh Abu Musa Al-Asy’ari, seorang sahabat yang saleh.

‘Amru Bin ‘Ash mengusulkan demi untuk mencapai perdamaian yang sebaik-baiknya bagi Ummat Islam dan supaya jangan tertumpah lagi darah ummat islam, kiranya kedua-duanya (‘Ali dan Mu’awiyah) diberhentikan lebih dahulu dan diserahkan kepada ummat Islam untuk mencari penggantinya. Usul ini diterima oleh utusan Saidina ‘Ali, yaitu Abu Musa Al-Asy’ari.
Dalam suatu rapat yang dihadiri oleh ribuan kaum Muslimin di Daumatul Jandal, Iraq, keputusan ini diumumkan. ‘Amru Bin ‘Ash minta kepada Abu Musa untuk berpidato terlebih dahulu karena usia beliau lebih tua, tujuan untuk mengumumkan bahwa khalifah Saidina ‘Ali telah diberhentikan oleh majelis Tahkim. Abu Musa mengikuti saja dan terus berpidato menerangkan bahwa ia adalah seorang anggota majelis Tahkim di pihak Saidina ‘Ali, dengan disaksikan oleh ummat Islam yang banyak hadir ketika itu memperhentikan ‘Ali Bin Abi Thalib dari jabatannya sebagai khalifah dan menyerahkan pemilihan gantinya kepada ummat Islam.

Setelah itu ‘Amru Bin ‘Ash tampil ke atas podium dengan tujuan semula untuk menyampaikan kepada Ummat islam bahwa Saidina Mu’awiyah juga diberhentikan, namun setibanya di atas podium ia bukan mengatakan hal itu, tetapi ia berkata :”hai seluruh Ummat islam, saudara telah mendengar tadi yang bahwa Saidina ‘Ali sekarang sudah diberhentikan oleh utusannya sendiri, maka sekarang yang tinggal hanya satu khalifah yaitu Saidina Mu;awiyah, maka tha’atilah ia bersama-sama.

Akhirnya permusuhan dan peperangan timbul kembali, sdangkan orang-orang khawarij tambah marah menyalahkan Saidina ‘Ali karena menerima Tahkim dan mengutuk Saidina Mu’awiyah.


15.   Saidina ‘Ali Mati Terbunuh.

Permusuhan dan perlawanan antara golongan Saidina ‘Ali dan Saidina Mu’awiyah berjalan terus.

Pada tahun 40 Hijriyah, sesudah 5 tahun Saidina ‘Ali menjadi khalifah, kaum khawarij yang jahat itu mengadakan komplotan untuk membunuh Saidina ‘ali dan Saidina Mu’awiyah sekaligus. Begitu juga diputuskan untuk membunuh ‘Amru Bin ‘Ash, yaitu ketua kelompok Saidina Mu’awiyah yang dianggap oleh mereka sebagai penipu yang jahat.

Mereka mengutus Abdurrahman Bin Muljam untuk membunuh Saidina ‘Ali, dan mengutus Al-Barak untuk membunuh Saidina Mu’awiyah, dan mengutus Umar Bin Bakir untuk membunuh ‘Amru Bin ‘Ash. Pembunuhan telah diatur, yaitu pada waktu subuh yang sama tanggalnya 17 ramadhan 40 H, pada ketika itu beliau-beliau itu keluar hendak sembahyang subuh ke mesjid.

Qadar Ilahi berlaku, bahwa Saidina ‘Ali dapat ditikam oleh Abdurrahman Bin Muljam pada waktu subuh ketika beliau keluar hendak pergi sembahyang ke mesjid, sedangkan Mu’awiyah dan ‘Amru Bin ‘Ash tak dapat dibunuh.

Saidina ‘Ali Bin Abi Thalib meninggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Dan dimakamkan di najf, Baghdad.

“Allah Yarham, semoga Allah mengasihi beliau”.


16.   Saidina Hasan Pengganti Saidina ‘Ali.

Saidina Hasan Bin ‘Ali Bin Abi Thalib diangkat oleh ummat islam sebagai khalifah yang ke 4 pengganti ayahnya saidina ‘Ali Bin Abi Thalib. Akan tetapi sesudah dua bulan diangkat ia menyerahkan jabatan khalifah itu kepada Saidina Mu’awiyah Bin Abi Sofyan, demi menjaga kesatuan ummat islam dan demi menjaga agar darah ummat islam jangan tertumpah lagi dalam perang saudara terus menerus.

Saidina Hasan Bin ‘Ali seorang kesatria yang mencintai Islam dan muslimin dengan sepenuh hatinya, ia melepaskan haknya sebagai khalifah demi keutuhan dan kesatuan ummat islam. Hal ini sangat pahit bagi golongan syi’ah karena mereka dikalahkan tanpa peerjuangan.
Penyerahan kekuasaan dari Saidina Hasan kepada Mu’awiyah juga pukulan yang sangat besar bagi kaum Syi’ah, tetapi apa boleh buat karena Imam yang mereka anggap sudah bertindak begitu. Oleh karena itu kaum Syi’ah sangat membenci saidina Mu’awiyah dan seluruh Bani Umayyah, karena Saidina Mu’awiyah dari suku Umayyah.

Maka terdapatlah 3 golongan pada ketika itu, yaitu :
  1. Golongan terbesar, yaitu golongan yang mengikut saidina Mu’awiyah Rda, yang menganggap beliau adalah khalifah yang ke 5 yang sah, golongan ini banyak berada di Damsyik, Mekkah, Madinah, dan di mesir, dan di kota-kota lain ummat islam.
  2. golongan syi’ah, yaitu golongan yang tidak mengakui Mu’awiyah sebagai khalifah yang kelima, tetapi mengangkat secara diam-diam saidina Husein (saudara khalifah Hasan) sebagai khalifah yang ke 3, golongan ini banyak berada di Iraq, di Bashrah dan di Kuffah.
  3. golongan yang ke 3 adalah golongan kaum khawarij, yaitu golongan yang anti Saidina Mu’awiyah dan anti kaum syi’ah. Goglongan ini banyak bertebaran di bahagian wilayah islam di Iraq dan di Persia.


17.   Mu’awiyah Khalifah Yang Kelima.

Pemerintah Saidina Mu’awiyah Bin Abi Sofyan dari bani Umayyah yang berkedudukan di damaskus berjalan selama 20 tahun, yaitu dari tahun 40 H, sampai 60 H. Selama beliau memerintah, agama Islam bertambah meluas sampai-sampai ke barat dan ke timur.

Pada ketika agama Islam sampai ke indonesia, ke Tiongkok dan ke berbagia penjuru daerah. Tetapi kaum khawarij di dalam daerah diburu, ditangkap dan dibunuh.

Pada waktu beliau hampir meninggal tahun 60 H. Beliau mewariskan jabatan khalifahnya kepada anaknya, yang bernama Yazid Bin Mu’awiyah, seorang anak yang tidak begitu tha’at kepada agama.


18.   Kekuasaan Yazid Bin Mu’awiyah dan Peristiwa Karabela.

Yazid berkuasa dari tahun 60 H. Sampai 63 H, yaitu 3 tahun saja. dalam masanya ini terjadilah “peristiwa karabela” yang termasyhur. Yazid sangat dendam kepada Saidina Husein Bin ‘Ali Bin Abi Thalib, cucu nabi, anak Siti fathimah Rda.

Pada suatu hari Yazid memerintahkan panglimanya ‘Ubaidillah Bin Ziyaduntuk membunuh Saidina Husein Bin ‘Ali Bin Abi Thalib. Mereka berjumpa di karabela, sebuah tempat antara Iraq dan Persia (sekarang di bawah pemerintah Iraq). Perkelahian terjadi antara Saidina Husein Bin ‘Ali bersama kawannya sebanyak 80 orang dengan Ubaidillah Bin ziyad dan pasukannya yang berpuluh kali lipat banyaknya dibandingkan dengan kawan Saidina Husein.
Saidina Husein dan kawannya dibunuh semua. Kepala Saidina Husein dikirim ke Damaskus oleh ‘Ubaidillah Bin Ziyad sebagai tanda bagi majikannya bahwa tugasnya telah diselesaikan. Hal ini terjadi pada tahun 61 Hijriyah.

Peristiwa karabela ini diperingati setiap tahun oleh kaum Syi’ah diseluruh dunia sampai sekarang sebagai belasungkawa atas kematian Saidina Husein.

Yazid Bin Mu’awiyah berkuasa penuh karena musuh-musuhnya semuanya sudah musnah, tetapi golongan syi’ah sangat mendendam, mereka melakukan aksi-aksi di bawah tanah yang tak dapat dipadami, mereka mengangkat imam-imam mereka secara tersembunyi, mereka membiasakan diri dengan gerakan-gerakan rahasia di bawah tanah.


19.   Mulanya Soal Politik Kemudian Menjadi Soal I’tiqad.

Kalau kita perhatikan sepintas lalu sejarah ringkas ini teranglah bahwa asal mulanya hanya soal politik, soal khalifah dan soal imam, akan tetapi kemudian menjadi soal I’tiqad dan soal kepercayaan. Ini tidak boleh heran karena antara agama dan politik di dalam islam sulit untuk dipisahkan, soal-soal kepala negara dan khalifah bukanlah soal politik semata, tetapi juga menyangkut dengan masalah agama, soal perang dan damai bukanlah soal polotik melulu, tetapi juga soal keyakinan agama dalam bab “perang sabil”. Soal zakat dan soal perniagaan, soal harta peninggalan bukanlah hanya soal masyarakat saja, tetapi juga menyangkut dengan soal keyakinan agama juga. Apalagi pada abad-abad permulaan islam, dimana kekuasaaan islam sangat terasa, dan hukum yang berlaku seluruhnya hukum islam.
Kaum syi’ah mendasarkan pengabdiannya kepada “imam”. Imam mereka diangkat oleh nabi Muhammad, kata mereka.

Karena itu tidak boleh dibantah dengan hukum syara’, siapa yang membantah wajib dilawan dan diperangi.

Golongan khawarij juga begitu, mereka jengkel dalam soal “tahkim”. Menurut mereka tahkim itu bertentangan dengan agama, dan orang-orang yang menerima tahkim itu berarti melawan hukum agama dan wajib untuk dilawan, kata mereka.

Pendeknya bagi orang islam pada abad-abad permulaannya tidak berbeda antara agama dan politik. Agama ialah politik dan politik ialah agama. Semuanya dari Tuhan turun ke nabi, agama tidak boleh dipisahkan dari negara.


20.   Golongan-Golongan Dalam Kaum Syi’ah.

Untuk menggambarkan gerakan syi’ah keseluruhannya baiklah kami terangkan bahwa syi’ah itu telah berpecah sampai 22 golongan, antaranya :
  1. Syi’ah sabaiyah, yaitu syi’ah pengikut Abdullah Bin Saba’. Golongan syi’ah sabaiyah ini termasuk golongan syi’ah yang “gullat”, artinya syi’ah yang keterlaluan, yang berlebih-lebihan, yang mempercayai bahwa nabi Muhammad akan kembali ke dunia seperti nabi Isa, bahwa Saidina Ali belum mati tetapi bersembunyi dan akan lahir ke dunia kembali, bahwa jibril tersalah menurunkan wahyu yang seharusnya diturunkan kepada Ali lantas diberikannya kepada Muhammad, bahwa petir dan kilat adalah suara saidina Ali yang sedang marah, bahwa ruh Tuhan turun kepada Ali dan lain-lain. I’tiqad yang ganjil-ganjil.
  2. Syi’ah kaisaniah, yaitu syi’ah pengikut mukhtar bin ubay as-saqafi. Golongan ini tidak mempercayai adanya ruh Tuhan dalam tubuh saidina Ali, tetapi mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa imam-imam orang syi’ah adalah Ma’shum (sama dengan nabi-nabi) dan masih keturunan wahyu.
  3. Syi’ah Imamiyah, yaitu golongan syi’ah yang percaya kepada imam-imam yang ditunjuk langsung oleh nabi Muhammad saw. Yaitu saidina Ali sampai 12 orang keturunannya. Syi’ah macam ini berkuasa di Iran. Syi’ah Imamiyah percaya pada 12 Imam, pertama Saidina Ali dan yang ke 12 adalah Al-Mahdi, seorang imam yang lenyap dan akan keluar pada akhir zaman. Sayid Jamaluddin al-afgani, guru Muhammad Abduh, adalah seorang penganut faham syi’ah imamiyah dari persi ini.
  4. Syi’ah Isma’iliyah, yaitu syi’ah yang mempercayai hanya 7 orang imam, yaitu pertama Saidina Ali dan akhirnya Isma’il Bin Ja’far Ash-Shaddiq yang lenyap dan akan keluar pada akhir zaman. Syi’ah ini banyak terdapat di pakistan, murid aga khan.
  5. Syi’ah Zaidiyah, yaitu syi’ah pengikut imam zaid bin ali bin husein bin ali bin abi thalib. Syi’ah zaidiyah ini berada di yaman. Syi’ah zaidiyah ini adalah syi’ah sederhana bukan gullat. Mereka tidak mengkafirkan Saidina Abu Bakar, Umar, dan Utsman Rda, tetapi mereka berkeyakinan bahwa Saidina Ali lebih mulia dari abu Bakar. Syi’ah zaidiyah beri’tiqad bahwa orang muslim yang mengerjakan dosa besar, kalau mati sebelum taubat maka ia kafir, kekal dalam neraka. Tersebut dalam kitab “Dzuhurul Islam karangan Ahmad Amin, pada juzu’ ke 4”. “imam kaum zaidiyah zaid bin ali adalah murid dari Washil Bin ‘Atha, pemimpin kaum mu’tazilah dalam Ushuluddin. Oleh karena itu mazhab zaidiyah mendekati mazhab mu’tazilah. Menurut syharstani, bahwa sekalian murid zaid adalah berfaham mu’tazilah. Orang-orang zaidiyah banyak mengarang kitab-kitab ushuluddin, hadist dan fiqih yang khusus bagi mereka. Salah seorang imamnya yang masyhur dalam abad terakhir ialah imam Syaukani yang banyak mengarang kitab dalam ushuluddin dan fiqih. Demikianlah tersebut dalam kitab “Dzuhurul Islam”. Imam Syaukani ini adalah Muhammad Bin Ali Bin Muhammad Asy-Syaukani, wafat 1255 H. Yaitu pengarang kitab “Nailul Authar”, yang banyak tersiar di Indonesia. Karena itu berhati-hatilah membaca “nailul authar”, karena pengarangnya adalah seorang ulama syi’ah zaidiyah.
  6. Syi’ah Qaramithah, yaitu kaum syi’ah yang suka menafsirkan Qur’an sesuka hatinya saja. Mereka mengatakan bahwa malaikat-malaikat adalah muballigh, syaithan-syaithan adalah musuh mereka, yang dinamakan sembahyang ialah mengikut mereka, yang dinamakan haji adalah ziarah kepada imam, yang dinamakan puasa ialah tidak membuka rahasia iman, dan orang-orang yang sudah mengetahui Allah sedalam-dalamnya tidak perlu sembahyang, puasa, dan lain-lain ibadat lagi, dan lain-lain fatwa yang sangat keliru. Pendeknya ayat-ayat suci Al-Qur’an mereka ta’wilkan semau-maunya saja.
  7. Dan lain-lain golongan dalam Syi’ah. Golongan syi’ah lumayan banyak namundisini tidak kami paparkan semuanya, tapi kami cukupkan sedemikian saja,karenagolongan inilah yang termasyhur di kalangan ummat Islam
Hay tamuku,Trimakasih sudah membaca Ringkasan Faham Syi’ah ,Silahkan bagikan artikel Ringkasan Faham Syi’ah kepada teman anda!
Share on :
 

Poskan Komentar

jangan lupa di coment !!!!

 
Support : Al-Fata | Ijal Mantap |
Copyright © 2013. Goresan ijal mantap - All Rights Reserved
Di Design Ulang Oleh I Template Blog Published by I Template Blog
Proudly powered by Blogger