Tak perlu diributkan pada permasalahan ucapan Sayidina

Tak perlu diributkan pada permasalahan ucapan Sayidina

Suatu masalah dalam agama yang nampaknya kecil tetapi pada hakikatnya besar, ialah masalah membaca “sayidina” ketika mengucapkan shalawat kepada nabi Muhammad saw.
Dikatakan kecil karena hanya menyangkut sepatah kata, tetapi besar karena masalah ini berhubungan langsung dengan pribadi nabi Muhammad Saw yang sangat dihormati.
Ulama-ulama sunny dan pengikut-pengikutnya memang dari dulu membiasakan diri
membaca “sayidina” ketika mengucapkan shalawat. Mereka bershalawat begini :

اللهما صلى على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
Artinya :
“ya Allah, turunkanlah rahmatmu kepada “sayidina” Muhammad dan kepada keluarga “sayidina” Muhammad. 

Mereka tidak membiasakan diri membaca shalawat tanpa “sayidina” seperti :


اللهما صلى على  محمد وعلى ال  محمد 
Artinya : “ya Allah, turunkanlah rahmatmu kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad.

Kemudian dalam rangka “modernisasi agama” juga timbul fatwa-fatwa baru yang mengatakan bahwa membaca “sayidina” dalam mengucapkan shalawat kepada nabi, tidak baik. Lebih baik dihentikan.
Disebabkan fatwa baru ini terjadilah dua golongan di Indonesia, yaitu : ada golongan yang tetap membaca sayidina dan ada pula yang tidak membaca sama sekali.
Hal ini menjadi  menyolok kalau shalawat itu diucapkan dihadapan umum, seperti pada khutbah-khutbah jum’at yang didengar oleh orang banyak, karena ada khatib jum’at yang membaca sayidina dalam membaca shalawat dan ada khatib yang tidak membaca sayidina.
Orang awam yang mendengar khutbah itu terheran-heran saja, dan bertanya-tanya dalam hati : kenapa pembacaan kedua khatib ini berbeda ???
Kemudian, orang awam sebagai biasanya ada yang menanggapi secara negatif, mereka mengatakan : yang membaca sayidina adalah khatib kuno, dan yang tidak membaca sayidina adalah khatib modern.
Dengan sebab demikianlah, kita selaku orang-orang yang mengetahui sepatah dua kata tentang masalah ini harus menjelaskan kepada orang yang masih timbul keraguan dalam maslah ini.

                                                                                                     
           I.            ARTI PERKATAAN SAYIDINA

“SAYID”adalah bahasa arab yang artinya “penghulu”. “sayidina” berarti penghulu kita.
Penghulu adalah orang yang dimuliakan dalam suatu kelompok manusia dan orang yang dijadikan ikutan dan pimpinan dalam segala urusan.
Kalau kita katakana bahwa nabi Muhammad saw, “penghulu kita” maka itu berarti bahwa beliau adalah orang yang kita muliakan, yang kita hormati, yang kita junjung tinggi, dan yang kita jadikan pimpinan dan ikutan lahir batin, dunia akhirat.
Kalau kita ucapkan “sayidina Muhammad” maka itu berarti bahwa kita memuliakan beliau sebaik-baiknya dan mengangkat derajat beliau setinggi-tingginya, sesuai dengan kedudukan beliau yang sebenarnya.

   II.            HUKUM DALAM MAZHAB IMAM SYAFI’I

Seluruh kitab-kitab fiqih yang mu’tamad dalam mazhab imam syafi’i mengatakan bahwa membaca sayidina sebelum membaca nabi Muhammad saw, dalam shalawat adalah afdhal (lebih baik) karena hal itu berarti menghormati dan memuliakan nabi saw.
Ucapan shalawat yang afdhal adalah :
اللهما صلى على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
Artinya : “ya Allah, turunkanlah rahmatmu kepada “sayidina” Muhammad dan kepada keluarga “sayidina” Muhammad.

Tersebut dalam kitab-kitab fiqih begini :
1.  Diterangkan dalam kitab “nihayatul muhtaj” karangan ulama besar syeikh Syamsuddin ar- Ramli, yaitu suatu kitab fiqih yang mu’tamad yang dipegang teguh dalam mazhab imam syafi’I, sebagai berikut :
والافضل الاتيان بلفظ السيادة كما قاله ابن ظهيرة وصرح به جمع وبه أفتى الشارح لان فيه الاتيان بما امرنا به وزيادة الاخبار بالواقع الذي هو ادب فهو افضل من تركه نهاية المحتاج
Artinya : “dan yang lebih afdhal menambah lafadh “sayidina” sebagai dikatakan ibnu zahirah, dan yang dikatakan sejelas-jelasnya oleh sekumpulan ulama, dan juga yang difatwakan oleh pengarang kitab ini, karena menambahkan “sayidina” itu dalam shalawat, kita telah mengerjakan perintah nabi dan pula telah mengucapkan yang benar, yaitu berbicara secara sopan dan beradab. Membaca “saiyidina” lebih afdhal daripada tidak membaca (nihayatul muhtaj, juzu’ I, hal 509).

2.  Berkata syeikh Muhammad al-Fasi pengarang kitab “syarah dalailul khairat”, begini :
الصحيح جواز الاتيان بلفظ السيد والمولى ونحوهما مما يقتضى التشريف والتوقير والتعظيم فى الصلاة على سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وايثار ذالك على تركه
Artinya : “fatwa yang sahih adalah boleh menambahkan “sayidina” dan “maulana”, dan lain-lain perkataan yang menyatakan menghormati, memuliakan serta membesarkan nabi dalam mengucapkan shalawat untuk penghulu kita nabi Muhammad saw, mengucapkan lebih baik daripada meninggalkannya (sa’datut durain, hal 11).

3.  Berkata syeikh syihabuddin al qaliyubi, pengarang dan pensyarah kitab minhaj imam nawawi, begini :
نعم ! لا يضر زيادة هيم فى عليك ولا يا نداء قبل ايها ولا وحده لا شريك له بعد اشهد ان لا اله الا الله, لورودها فى رواية كما قاله شيخنا ولا زيادة عبده مع رسوله ولا زيادة سيدنا قبل محمد. هنا وفى الصلاة عليه الاتية بل هو افضل لان فيه مع سلوك الادب امتثال الامر قليوبى

Artinya :”ya ! tidak merusakkan (dalam tasyahud) menambahkan huruf “mim” pada “’alaika”, begitu juga menambahkan “ya” sebelum “ayyuha”, begitu juga membaca “wahdahu la syarikalah” sesudah “asyhadu an la ilaha illallah”, begitu juga menambahkan “’abduhu” sebelum lafadh “warasuluhu”, begitu juga menambah “sayidina” sebelum nama “Muhammad” (dalam tasyahud atau dalam shalawat), tetapi membaca sayidina lebih afdhal karena dalam membaca “sayidina” itu kita sudah menjalankan perintah nabi serentak dengan memuliakan dan menghormati nabi. (Qaliyubi I, hal 167).

Jadi, membaca “sayidina” menurut syeikh Qalyubi adalah ibarat orang mendayung sampan, sekali mendayung sampan, dua tiga pulau terlampau, yaitu :
1)      Bershalawat menurut yang diperintahkan nabi.
2)      Menghormati dan memuliakan nabi.

4.  Tersebut di dalam kitab Hasyiah Tuhfah karangan ‘Allamah Ibnu Qashim Al-‘Ubbadi, begini :

واعتمد الجلال المحلى اي فى غير شرحه ان الافضل زيادتها واطال فى ذالك وقال : ان حديث لا تسيدونى فى الصلاة باطل
Artinya :”dan memegang teguh Syeikh Jalaluddin Al-Mahalli akan fatwa yang menyatakan bahwasanya yang lebih afdhal adalah menambahkan “sayidina”, fatwa ini diuraikan panjang lebar oleh beliau, tetapi bukan dalam kitabnya syarah minhaj. Adapun hadist yang menyatakan :”janganlah kamu bersayidina kepadaku dalam sembahyang” adalah hadist munkar yang dibuat-buat, ya’ni hadist maudhu’ (Hasyiah Tuhfah I, hal 368).

Dari keterangan Al-‘Ubbadi ini ternyata bahwa syeikh Jalaluddin Al-Mahalli menfatwakan membaca “sayidina” adalah afdhal, dan hadist yang mengatakan “jangan bersayidina kepadaku dalam sembahyang” adalh hadist maudhu’, yaitu hadist yang dibuat-buat oleh pembohong.

5.      Tersebut dalam kitab Hasyiyah Tuhfah juga, karangan Al-Abbadi :

واشتهرت زيادة سيدنا قبل محمد
Artinya :”dan telah masyhur fatwa yang mengatakan bahwa baik sekali ditambah perkataan “sayidina” sebelum menyebut nama nabi Muhammad. (Hasyiah Tuhfah I, hal 268).

Jelaslah bahwa fatwa membaca “sayidina” itu adalah fatwa yang sudah terkenal dikalangan ulama-ulama islam.

6.      Tersebut dalam kitab I’anatut thalibin :

الاولى ذكر السيادة لان الافضل سلوك الادب اعانة الطالبين
Artinya :” dan adalah yang lebih baik mengucapkan “sayidina” sebelum nama nabi, karena yang afdhal adalah bersopan terhadap nabi. (I’anatut Thalibin I, hal 169).

Kitab I’anatut Thalibin adalah suatu kitab fiqih dalam mazhab syafi’I karangan Abu Bakar Syatha, yaitu kitab syarah daripada kitab Fathul Mu’in karangan Syeikh Al-Malibari. Kitab ini dipakai dalam pelajaran fiqih pada madrasah-madrasah di Indonesia.
Nah,,, demikianlah sekelumit nash ulama-ulama dalam kitab fiqih yang mu’tamad yang dipegang teguh oleh ummat islam, baik dalam melaksanakan ibadat kepada tuhan atau dalam menjalankan hokum pengadilan.
Boleh dikatakan bahwa seluruh kitab-kitab fiqih dalam mazhab Syafi’I senada dalam masalah ini, yaitu dalam fatwa-fatwa :
a.  Yang lebih afdhal (yang lebih baik) membaca sayidina dalam shalawat.
b. Membaca sayidina itu dengan maksud menghormatidan memuliakan nabi Saw.
c.  Bersopan dan beradap terhadap Nabi Saw, adalah suatu hal yang pokok dalam agama Islam.

   III.            DALIL-DALIL FATWA
  Dalil pertama

Firman Tuhan :
فالذين امنوا به وعزروه ونصروه والتبعوا النور الذى انزل معه اولئك هم المفلحون
Artinya :”maka mereka yang beriman pada nabi, memuliakannya, menolongnya, dan mengikut Qur’an yang diturunkan kepadanya, mereka itulah yang beruntung yang mendapat kemenangan. (Al-A’raf : 157).

Orang yang memuliakan nabi adalah orang yang akan dapat kemenangan dan keuntungan. Membaca “Sayidina” adalah dalam rangka memuliakan nabi yang mulia.

Dalil kedua

Firman Tuhan :

ان الله وملائكته يصلون على النبي يايها الذين امنوا صلو عليه وسلموا تسليما
Artinya :”bahwasanya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat kepada nabi. Hai sekalian sekalian orang mu’min, hendaklah kamu bershalawat pula kepada nabi dan memberi salam sebaik-baiknya kapada beliau. (Al-Ahzab : 56).

Menurut seorang ahli tafsir yang tekenal,Syeikh Ahmad bin Muhammad As-Shawi dalam tafsirnya yang terkenal “Tafsir Shawi” menafsirkan ayat ini sebagai berikut : Tuhan Allah menghormati dan menurunkan rahmatnya atas nabi, malaikat-malaikat juga menghormati dan memohonkan rahmat Tuhan kepada nabi.
Dan Tuhan memerintahkan kepada sekalian orang yang beriman supaya menghormati dan memohonkan rahmat untuk nabi (Tafsir Shawi III, hal 268).
Kemudian Shawi menerangkan bahwa ini suatu bukti bahwa nabi Muhammad Saw, adalah paling mulia disbanding dengan makhluk-makhluk lainnya yang dimuliakan Tuhan, karena rahmatnya diturunkan serentak dengan penghormatannya kepada beliau.
Adapun kepada makhluk lain yang diberikan Tuhan hanyalah rahmatnya saja.
Selain itu dalam ayat ini dapat dipetik bahwa makhluk penghuni alam yang tinggi, penghuni langit tujuh lapis, yaitu malaikat yang termasuk di dalamnya malaikat sepuluh, jibril, mikail, israfil, izrail, dan lain-lain, semuanya menghormati nabi Muhammad Saw, dan memohonkan rahmat untuk beliau.
Kemudian Tuhan memerintahkan pula kepada penduduk alam yang rendah, yaitu manusia supaya mereka menghormati Nabi Saw, dan memohonkan rahmat kepada Tuhan untuk nabi Saw.
Maka dengan ayat ini Tuhan langsung memerintahkan supaya sekalian orang mu’min menghormati dan memuliakan nabi Saw, diantara cara untuk menghormati nabi ialah membaca “sayidina” ketika mengucapkan shalawat kepada Nabi Saw.

Dalil ketiga

Tersebut dalam kitab hadist :
عن ابى هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : انا سيد ولد ادم يوم القيامة واول من ينشق عنه القبر واول شافع واول مشفع
Artinya :”dari abu hurairah beliau berkata : Berkata Rasulullah Saw, : saya penghulu anak adam pada hari kiamat. Orang yang paling dahulu muncul dari kubur, dan orang yang paling dahulu member syafa’at, dan orang yang paling dahulu dibenarkan member syafa’at. (H.R Imam Muslim, syarah Muslim XV, hal 37 dan dirawikan uga oleh Sunan Abu Daud, Sunan Abu Daud IV, hal 218).

Dalam menafsirkan atau mensyarah hadist ini, imam Nawawi berkata :
1)  Nabi Muhammad itu adalah “sayid” ya’ni penghulu anak adam seluruhnya, baik didunia maupun di akhirat.
Dalam hadist ini dinyatakan “di Akhirat”, karena di akhirat itulah akan tampak dengan nyata kepenghuluan beliau dengan tunduk dan menghormatnya seluruh makhluk kepada beliau. Berlainan dengan di dunia, di mana banyak orang kafir yang tidak menghormati beliau.
Ini sama artinya dengan ayat :

لمن الملك اليوم لله الواحد القهار
Artinya : kepunyaan siapa kerajaan pada hari ini? (hari kiamat). Kepunyaan Tuhan yang maha perkasa (Al-Mu’min : 16)

Dalam ayat ini disebutkan  hari qiyamat, padahal kepunyaan dan kekuasaan Tuhan adalah di dunia dan akhirat, tetapi di akhirat sangat nyata sekali karena tidak ada lagi fir’aun dan sesembahan yang lain, tidak ada lagi raja yang ingkar kepada Allah, semuanya tunduk kepadanya.

2)  Nabi muhammad Saw, menyatakan diri beliau penghulu anak Adam, hal ini beliau katakan bukanlah untuk menyombongkan diri, tetapi adalah untuk maksud dan tujuan :
a) Mengabarkan yang benar yang mesti dikabarkan kepada Ummat supaya mereka mengetahui dan meng i’tiqadkan, menyesuaikan amal pekerjaan dengan itu, dan menghormati beliau.
b) Menjalankan perintah Tuhan karena Tuhan menyuruh beliau mengabarkan Ni’mat yang diterimanya dari Allah.

Dalam hadist sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tsb, dinyatakan secara gamblang oleh nabi Saw, bahwa beliau “penghulu anak adam”. Ini berarti bahwa beliau adalah penghulu dari sekalian manusia, termasuk kita.
Jadi, membaca sayidina dalam mengucapkan shalawat adalah justru dalam rangka mengamalkan apa yang dikatakan nabi Saw. Ini.

Tuhan berfirman :

واما بنعمة ربك فحدث
Artinya :” dan karunia Tuhan (yang diberikan kepadamu seperti kerasulan, kepenghuluan) hendaklah kamu terangkan kepada Ummat. (AD-DHUHA : 11).

Imam Nawawi Rahimahullah menafsirkan ayat ini : bahwa karunia Tuhan kepadamu (hai Muhammad), seperti kerasulan, kepenghuluan hendaklah diterangkan kepada Ummat. (Syarah Muslim XV, hal : 37).

Oleh karena itu baik sekali membaca shalawat begini :

اللهما صلى على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
Artinya : “ya Allah, turunkanlah rahmatmu kepada “sayidina” Muhammad dan kepada keluarga “sayidina” Muhammad.
  
 Dalil ke empat

Di dalam kitab yang lain terdapat hadist yang hampir serupa dengan hadist yang ketiga tadi, bunyinya :
عن ابي سعيد الخدرى قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : انا سيد ولد ادم و بيدى لواء الحمد ولا فخر وما من نبي يومىُذ ادم فمن سواه الا تحت لواء وانا اول من تنشق عنه الارض ولا فخر. رواه الترمذى
Artinya :”dari Abi Sa’id Al-Khudri beliau berkata : Berkata Rasulullah Saw, : say penghulu anak adam pada hari kiamat, dan ditangan saya panji-panji kepujian, dan bukan membanggakan diri, nabi-nabi dari Adam sampai kebawah semuanya dibawah benderaku, dan akulah yang mula-mula muncul dari kubur. (H.R Tirmidzi, lihat Sahih Tirmidzi XIII, hal : 102-103).

Hadist ini menerangkan :
1.   Nabi Muhammad adalah “SAYIDINA” penghulu kita.
2.  Di hari kiamat, panji-panji kepujian ada di tangan beliau.
3. Sekalian nabi-nabi mulai nabi Adam sampai nabi ‘Isa As bernaung dibawah panji-panji beliau.
4. Sewaktu dibunyikan trompet sangkakala pada hari kiamat, mula-mula yang muncul adalah beliau.
5. Hal ini dikatakan nabi Muhammad Saw, bukanlah bertujuan untuk membangga-banggakan diri, melainkan semata-mata mengabarkan yang benar, yang dikaruniai Tuhan kepadanya, supaya Ummat mengetahui dan beramal sesuai dengan garis itu.


Dalil kelima

Nabi Muhammad Saw, bersabda :
اذا كان يوم القيامة كنت املم النبيين وخطيبهم وصاحب شفاعتهم غير فخر. رواه الترمذى
Artinya :” apabila hari kiamat tiba, maka saya adalah imam nabi-nabi sewaktu itu, juru bicaranya, dan pemberi syafa’at kepada mereka, ini dakhabarkan, bukan untuk membanggakan diri. (H.R Imam Tirmidzi XIII, hal :101).

Hadist ini berarti bahwa nabi kita Muhammad Saw, bukan saja penghulu anak adam di akhirat nanti, tetapi juga Imam dan juru bicara nabi-nabi.
Maksud juru bicara disini ialah orang yang memberikan permohonan syafa’at kepada Tuhan supaya menolong sekalian manusia, termasuk nabi-nabi.
Jelaslah yang bahwa nabi kita Muhammad Saw, bukan hanya “sayidina” (penghulu kita), tetapi juga “syafi’una” (penolong kita) atau pemberi syafa’at.

Dalil ke enam

Tersebut dalam kitab hadist :
عن واثلة ابن الاسقع رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ان الله اصطفى من ولد ابراهيم اسماعيل, واصطفى من ولد اسماعيل بني كنانة واصطفى من بني كنانة قريشا, واصطفى من قريش بني هاشم واصطفانى من بني هاشم. رواه الترمذى
Artinya :”dari watsilah bin asqa’ beliau berkata : berkatalah Rasulullah Saw, : hanyasanya Allah memilih Isma’il dari anak-anak Ibrahim, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari Qurays, dan memilih Saya dari Bani Hasyim. (H.R Tirmidzi, lihat sahih Tirmidzi XIII, hal : 94).

Dari hadist ini dapat diambil pengertian bahwa nabi Muhammad Saw, adalah “khiyarun min khiyar”, yaitu pilihan dari pilihan yang boleh kita pendekkan bacaannya dengan “al-mukhtar” atau “al-musthafa”.
Baik sekali kalau kita mengucapkan shalawat dalam rangka menghormati kepada nabi Saw, dengan bacaan :
اللهما صلى على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
Artinya : “ya Allah, turunkanlah rahmatmu kepada “sayidina” Muhammad dan kepada keluarga “sayidina” Muhammad.
  
 Dalil ketujuh

Tersebut dalam kitab hadist :
عن ابى هريرة قال : قالوا يا رسول الله متى وجبت لك النبوة قال : وادم بين الروح والجسد. رواه الترمذى
Artinya :”dari Abu hurairah Rda, beliau berkata : orang-orang bertanya kepada Rasulullah :”Ya Rasulullah ! kapan tuan diangkat menjadi nabi ?__ beliau menjawab : pada waktu Adam diantara roh dan jasad”.(H.R Imam tirmidzi, lihat sahih tirmidzi, juzu’ XII, hal : 99).

Hadist ini menyatakan bahwa nabi Saw, lebih dahulu diangkat menjadi nabi oleh Tuhan daripada pengangkatan nabi adam dan nabi-nabi lain sesudah adam, yaitu pada waktu nabi adam belum diberi roh, sedang terbaring di syurga sebagai tanah yang dikepal.
Jelasnya, nabi Muhammad adalah nabi yang paling awal diangkat sebagai nabi oleh Tuhan, dan yang paling kemudian lahir ke dunia.
Boleh dikatakan “saidul awwalin wal akhiriin” (penghulu orang-orang yang terdahulu dan penghulu orang-orang kemudian).

 Dalil kedelapan

Tersebut dalam kitab hadist :
الا وانا حبيب الله ولا فخر, وانا حامل لوآء الحمد يوم القيامة ولا فخر, وانا اول شافع, واول مشفع يوم القيامة ولا فخر, وانا اول من يحرك حلق الجنة فيفتح الله لى فيدخلنيها ومعى فقراء الموُمنين ولا فخر, وانا اكرم الاولين والاخرين ولا فخر. رواه الننرمذى
Artinya :”ketahuilah bahwasanya saya adalah kekasih Allah, ini bukan membanggakan diri, saya pemegang panji-panji kepujian pada hari qiamat, dan saya adalah orang yang pertama yang memberi syafa’at, dan orang yang mula-mula diterima syafa’atnya di hari qiamat, ini bukan membangga.
Dan saya adalah orang yang mula-mula menggerakkan kunci syurga, maka Tuhan membukanya dan masuklah saya bersama orang-orang mu’min yang faqir, ini bukan membangga, saya adalah orang-orang yang paling mulia diantara orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, ini bukan membangga. (H.R Tirmidzi, lihat sahih tirmidzi juzu’ XIII, hal : 103).

Dalil kesembilan

و انا خاتم النبيين. رواه البخارى
Artinya :”dan aku adalah kesudahan nabi-nabi. (H.R Imam Bukhari, Fathul Bari VII, hal : 370).

Nabi Muhammad adalah nabi kesudahan atau nabi penutup, tidak ada nabi sesudah beliau.
Ini adalah suatu penghormatan kepada nabi Muhammad, karena beliau adalah nabi yang palin akhir sehingga seluruh manusia yang lahir kedunia sesudah nabi muhammad Saw, dirasulkan sampai kepada hari kiamat nanti adalah ummat beliau, dan syari’atnya adalah syari’at yang paling akhir, sehingga syari’atnya tidak akan pernah berubah lagi sampai hari qiamat.
“KHATIMUN NABIYYIN” adalah pangkat kemuliaan, oleh karena itu baik sekali bershalawat kepada nabi dalam rangka memuliakan beliau ddengan mengucapkan :
اللهما صلى على خاتم النبيين وامام المرسلين سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وعلى اله واصحابه اجمعين.
Artinya :”ya Allah turunkanlah rahmatmu kepada nabi yang paling akhir, Imam sekalian nabi dan rasul, penghulu kami nabi Muhammad Saw, dan kepada keluarga nabi serta sahabat beliau keseluruhan.

Banyak sekali hadist-hadist yang menunjukkan bahwa junjungan kita nabi Muhammad Saw, adalah makhluk yang paling mulia diantara segala makhluk-makhluk yang dimuliakan Tuhan.

Dalil kesepuluh

Tuhan berfirman :
لا تجعلوا دعاء الرسول بينكم كدعاء بعضكم بعضا النور : 63
Artinya :”janganlah kamu memanggil Rasul sebagaimana kamu memanggil sesama kamu. (AN-NUR : 63).

Ayat ini menyatakan bahwa memanggil nabi haruslah dengan cara yang hormat dan sopan, misalnya dengan : ya rasulullah ! janganlah dengan ya Muhammad saja.
Menyebutkan nama atau panggilan beliau haruslah dengan sopan dan hormat, misalnya :
a.    Berkata nabi Muhammad Saw.
b.    Bersabda Rasulullah Saw.
c.    Demikian dalam syari’at junjungan kita nabi Muhammad Saw.
d.   Demikian menurut penghulu kita nabi Muhammad Saw.
e.   Hal ini dilarang oleh junjungan kita nabi Muhammad Saw.
f.    Hal ini diperintahkan oleh nabi kita, penghulu kita nabi Muhammad Saw.
g.    Dan lain-lain kata penghormatan yang bersamaan.

Dalil kesebelas

Tersebut dalam kitab “dailami” yaitu dalam kitab “musnadul firdausi”, sebuah hadist dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata : telah berkata Rasulullah Saw,
اذا صليتم علي فاحسنوا الصلاة فانكم لا تدرون لعل ذالك يعرض علي قولوا :
Artinya :” apabila kamu bershalawat kepadaku maka ucapkanlah dengan sebaik-baiknya karena kamu tidak tahu bahwa mungkin shalawat itu dihadapkan kepadaku,
Ucapkanlah :

اللهم اجعل صلواتك ورحمتك وبركاتك على سيد المرسلين وامام المتقين وخاتم النبيين عبدك ورسولك امام الخير ورسول الرحمةو اللهم ابعثه المقام المحمود اللذى يغبطه الاولون والاخرون.
Artinya :”ya Allah, turunkanlah rahmat dan berkat engkau untuk penghulu sekalian rasul, imam sekalian orang yang taqwa, nabi yang paling akhir, hambamu dan rasulmu, imam segala macam kebaikan, rasul yang mambawa rahmat.
Ya Allah, angkatlah beliau itu ketempat yang terpujiyang diinginkan orag-orang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian. (hadist ini dirawi oleh syeikh Dailawi dalam kitab musnadul firdausi__ sa’datut durein karangan syeikh isma’il bin yusuf nabhani, hal : 57).

Dari hadist ini ternyata banwa nabi kita Muhammad Saw,mengajarkan bershalawat kepada kita dengan beberapa gelar kehormartan kepada beliau, yaitu :
a)      Saidil Mursalin
b)      Imamil muttaqin
c)      Khatimin nabi
d)      Imamil khairi
e)      Qaidil khairi
f)       Rasu;ir rahmah
g)      Abdillah
h)      Rasulillah

Perlu digaris bawahi bahwa dalam hadist ini diajarkan “saidul mursalin” yang berarti juga “sayidina”. Dan dalm hadist ini juga diminta supaya shalawat itu harus diucapkan dengan perkataan yang baik-baik.

Demikianlah dalil-dalil untuk dijadikan dasaryang kuat bagi fatwa sunnatnya membaca “sayidina” atau memakai “sayidina” diawal-awal nama nabi Muhammad Saw.



          V.            NABI MUHAMMAD SAW, ADALAH MAKHLUK YANG PALING MULIA

Nabi Muhammad Saw, adalh makhluk yang paling mulia diantara makhluk-makhluk yang dimuliakan Tuhan, bukan saja beliau lebih mulia daripada manusia lainnya, tetapi juga lebih mulia dari malaikat, lebih mulia dari segala-galanya.

Adapun dalil-dalil yang menyatakan beliau adalah makhluk yang mulia adalah sebagai berikut :

Dalil pertama

Firman Tuhan :
ورفعنا لك ذكرك
Artinya :”dan kami angkat tinggi nama engkau (insyirah : 4).

Maksud ayat ini ialah bahwa nama nabi Muhammad Saw, diangkat tinggi oleh Tuhan. Bagaimana caranya Tuhan mengangkat tinggi nama nabi Muhammad Saw. Tersebut dalam sebuah hadist, sebagai berikut :

عن ابي سعيد الخدري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال : اتانى جبريل فقال : ان ربى وربك يقول : كيف رفعت لك ذكرك, قال : الله اعلم, قال : اذا ذكرت ذكرت معى
Artinya :”dari Abi Sa’id al-khuduri, dari nabi Saw, beliau berkata : datang malaikat jibril kepada saya, maka ia berkata : Tuhan ku dan Tuhanmu bertanya :”bagaimana caranya aku mengangkat nama engkau??
Aku menjawab : Tuhan yang paling tahu cara itu.
Berkata Tuhan :”apabila namaku disebut, namamu disebut pula”. (Tafsir Thabari XXX_ hal : 235).

Menurut fatwa Abdullah bin Abbas seorang sahabat nabi yang terkenal, bahwa penggandengan nama nabi Muhammad dengan nama Tuhan adalah wajib ;
a)      Dalam membaca syahadat.
b)      Dalam khutbah.
c)      Dalam azan.
d)      Dalam qamat.

Oleh karena itu tidak sah iman seseorang kalau syahadat nya diucapkan tanpa menyebut nama nabi Muhammad Saw. Seperti :

اشهد ان لا اله الا الله
Tetapi kalau nama nabi Muhammad Saw, digandengkan kepada nama Tuhan, barulah sah syahadat itu seperti :

اشهد ان لا اله الا الله, و اشهد ان محمد رسول الله
Artinya :”saya akui bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwasanya Muhammad rasulullah.

Jelaslah bahwa keimanan seseorang dengan pengakuan terhadap ketuhanan yang maha esa saja, belum cukup kalau tidak dibarengi dengan pengakuan dengan nama nabi Muhammad Saw, denga mengandengkan nama beliau dibelakang nama Tuhan.
Hala ini bukan saja dalam kalimat syahadat, tetapi dalam tasyahud sembahyang, dalam azan dan qamat, dalam khutbah, nama nabi Muhammad Saw, wajib dibaca sesudah membaca nama Tuhan.
Maka karena itu nama nabi Muhammad Saw, adalah nama yang paling banyak dibaca.
Kalau orang islam di dunia ini sekarang berjumlah 600 juta, dan mereka melakukan sembahyang lima kali sehari semalam, maka nabi muhammad Saw, disebut orang 5.400.000.000 (lima miliyar empat ratus juta) X dalam sehari semalam.

Perinciannya adalah sebagai berikut :
1.      Subuh             1X tasyahud =     600.000.000
2.      Dhuhur           2X tasyahud =  1.200.000.000
3.      Ashar              2X tasyahud =  1.200.000.000
4.      Maghrib          2X tasyahud =  1.200.000.000
5.      Isya                  2X tasyahud =  1.200.000.000
        jumlah tasyahud :                =  5.400.000.000


kalau diambah pula dengan banyaknya orang islam membaca syahadat, azan dan qamat, yang bershalawat kepada nabi Saw, dalam sehari semalam dan juga yang membaca dalailul khairat, maka hitungan miliyar tersebut harus dilipat gandakan lagi beberapa kali.
Disinilah letaknya kemuliaan nabi Muhammad Saw.

Dalil kedua
Tuhan berfirman :

واذا اخذ الله ميثاق النبيين لما اتيتكم من كتاب وحكمة ثم جائكم رسول مصدق لما معكم لتؤمنن به ولتنصرنه قال : ااقررتم واخذتم على ذالكم اصرى قالو اقررنا قال فاشهدوا وانا معكم من الشاهدين
Artinya :”dan ingatlah Allah ketika mengadakan perjanjian dengan nabi-nabi :”jika aku berikan kepadamu kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan kamu, hendaklah kamu percaya kepada dia dan hendaklah kamu tolong ia”. Ia Tuhan bertanya : sudahkah kalian terima perjanjian itu ? mereka menjawab : sudah kami terima dan sudah kami sanggupi.
Tuhan berkata : saksikanlah dan aku juga menjadi saksi atas itu. (Ali Imran : 81).

Tersebut dalam tafsir Thabari : Saidina Ali dalam menafsirkan ayat ini, berkata : sekalian nabi yang diangkat oleh Tuhan dari nabi Adam sampai kebawah, sebelumnya sudah berjanji kepada Tuhan bahwa kalau nabi Muhammad Saw, kebetulan dirasulkan ketika nabi-nabi itu masih hidup, maka nabi-nabi itu harus beriman kepada nabi Muhammad dan harus menolong ia dalam menjalankan syari’at Islam. (Thabari III, hal : 332).

Nabi-nabi itu semuanya sudah berjanji begitu.
Ini adalah suatu pertanda bahwa nabi Muhammad adalah nabi yang paling mulia dan paling tinggi derjatnya dibandingkan nabi-nabi lainnya.

Dalil ketiga
Tuhan berfirman :

ما كان محمد ابا احد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين وكام الله بكل شئ عليما
Artinya :”tiadk adak Muhamamd itu bapak dari seorang laki-laki kamu, tetapi ia rasul Allah dan Nabi penutup (Al-Ahzab : 40).

Ayat ini menyatakan bahwa nabi Muhammad adlah rasul Allah, utusan Allah.
Inilah derajat yang tinggi, karena Allah tidak mempercayakan wahyunya kepada orang selain yang dipercayainya.
Selanjutnya dalam ayat ini dikatakan bahwa nabi Muhammad Saw, sebagai nabi penutup, tidak ada lagi nabi sesudah beliau.
Maka karena itu sekalian manusia di dunia sejak mulai dari beliaudirasulkan sampai kepada akhir zaman yang belum tentu lagi berapa lamanya, adalah ummat nabi Muahammad Saw, sedang nabi-nabi terdahulu sebelum beliau hanya diutus Tuhan untuk sekelompok manusia pada zamannya, dan untuk waktu yang terbatas.
Nabi Muhammad Saw, adalah Rasulullah yang diutus untuk seluruh manusia diatas jagat raya ini mulai dari zaman beliau sampai akhir zaman.
Disitulah letaknya kemuliaan beliau.

Dalil keempat
Tuhan berfirman :

ان الزين يبايعونك انما يبايعون الله
Artinya :”orang-orang yang membai’ah engkau hai Muhammad, sesungguhnya mereka membai’ah kepada Allah (Al-Fath : 10).

Membai’ah artinya berjanji = melakukan perjanjian setia.
Sekalian orang yang berjanji setia kepada nabi Muhammad Saw, seolah-olah ia berjanji setia kepada Allah.
Maka ayat ini menyatakan bahwa nabi Muhammad Saw, adalah insan yang paling mulia disisi Tuhan, insan yang dijadikannya khalifah diatas bumi, sehingga sekalian orang yang berjanji setia kepada beliau seolah-olah berjanji setia kepada Tuhan.
Tidak ada derajat yang paling tinggi dan paling mulia dari derajat Khalifah Allah yang sebenar-benarnya diatas bumi.

Dalil kelima
Allah berfirman :

تلك الرسل فضلنا بعضهم على بعض منهم من كلم الله ورفع بعضهم درجات
Artinya :”rasul-rasul itu kami lebihkan sebagiannya dari yang lain, diantaranya ada yang bercakap-cakap dengan Tuhan, dan ada yang kami lebihkan derajatnya. (Al-Baqarah : 253).

Menurut Mujahid, seorang ahli tafsir, bahwa rasul yang diangkat tinggi derajatnya itu adalah nabi Muhammad Saw, karena beliau diutus menjadi rasul Allah untuk seluruh manusia, sedangkan rasul-rasul lain hanya diutus untuk sekelompok manusia. (Tafsir Thabari III, hal :1).
Oleh karena itu nabi Muhammad Saw, adalah rasul yang paling mulia dibanding dengan rasul-rasul lain.

Dalil keenam
Tuhan berfirman :

قل ان كنتم تحبون الله فاتبعونى يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم
Artinya :”katakanlah (hai Muhammad) : kalau kamu betul-betul mencintai Tuhan, ikutlah aku ! niscaya kamu akan dicintai pula oleh Tuhan, dan diampuni dosamu, hanyasanya Tuhan itu maha pengampun dan maha penyayang (Ali Imran : 31).

Sebab-sebab turunnya ayat ini, bahwa sekumpulan orang yahudi datang kepada nabi Muhammad Saw, mengatakan bahwa mereka mencintai Tuhan, dan Tuhan mencintai mereka. Karena mereka tidak perlu lagi beriman kepada nabi Muhammad, karena Tuhan sudah mencintai mereka, kata mereka.
Tuhan membntah perkataan yahudi tersebut dengan firmannya, yaitu syarat mencintai Tuhan apabila ia mau mengikut nabi, bila mereka mempercayai nabi, barula Tuhan mencintai mereka, dan jika tidak maka tuhan tidak cinta pula kepada mereka.
Ayat diatas membuktikan bahwa nabi Muhammad Saw, sangat dimuliakan tuhan, karena Tuhan tidak mencintai dan mengasihi siapapun juga, dan tidak mengampuni dosa siapapun juga, bila mereka tidak beriman dan mempercayai kepada nabi Muahammad Saw.
Nah,,,, kalau digali dan dibongkar ayat-ayat suci alqur’an yang menyatakan nabi Muhammad Saw, adalah makhluk yang paling mulia disisi Tuhan, niscaya tidak mungkin dipaparkan dengan sekedar tulisan seperti ini, tapi membutuhkan paparan yang sangat panjang dan luas.


              V.            PERTANYAAN DAN JAWABAN

Kemungkinan ada pertanyaan sekitar masalah membaca sayidina ini, dan karena ini kami turunkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin kira-kira timbul, dan berikutnya kami berikan jawaban atas jawaban itu dengan sebaik-baiknya, insya Allah.

Satu 

Ada sebagian muballigh yang tidak suka kepada pembacaan/pemakaian “sayidina”, memberikan penerangan dalam majelis-majelis ta’lim, menerangkan bahwa nabi Saw, ada mengatakan :

لا تسيدونى فى الصلاة
Artinya :”jangan bersayidina kepadaku dalam sembahyang

Bagaimana dengan hadist ini ?????

Jawaban :

Hadist ini memang sudah sejak lama beredar dari mulut ke mulut, yaitu sedari masa imam Ramli (wafat 1004 H) sudah beredar juga. Tetapi setelah diselidiki kitab-kitab hadist, ternyata hadist ini tidak ada.
Hadist ini adalah maudhu’ atau palsu, yang dibuat oleh orang-orang yang berkepentingan.

Dalam kitab nihayah dikatakan :

اما حديث لا تسيدونى فى الصلاة فباطل لا اصل له كما قاله بعض متاخرى الحفاظ
Artinya :”dan adapun hadist “LA TUSAYYIDU FIS SHALAH” adalah hadist yang bathil, tidak berdasar. Demikian yang dikatakan oleh sebahagian huffadh (orang-orang penghafal hadist).
(nihayah I, hal : 509).

Banyak lagi kitab-kitab yang mengatakan hadist itu adalah hadist palsu yang dibuat-buat orang dengan maksud tertentu.
Menurut qaidah ushul fiqih hadist yang palsu atau maudhu’ tidak bisa dipakai untuk menjadi dalil.

Kedua

Dalam mengucapkan shalawat sebagaimana yang diajarkan nabi Saw. Yang tersebut dalam kitab Bukhari dan Muslim, tidak ada Nabi mengajarkan bacaan “sayidina” itu.

Hadist itu begini bunyinya :


عن ابي سعيد الخدري قال قلنا يا رسول الله هذا السلام عليك فكيف نصلى : قالوا :
Artinya :”dari Abi Sa’id al Khudri beliau berkata : bertanya kami, hai Rasulullah ! cara untuk memberi salam kepada tuan, sudah kami mengerti, maka bagaimana pula cara mengucap shalawat kepada tuan ?
Nabi menjawab, Ucapkanlah :

اللهما صل على محمد عبدك ورسولك كما صليت على ابراهيم وبارك على محمد وعلى ال محمد كما باركت على ابراهيم وال ابراهيم
Artinya :”Ya Allah, turunkanlah rahmatmu kepada Muhammad, hambamu dan rasulmu, sebagaiman engkau telah menurunkan rahmat atas Ibrahim.
Dan berilah keberkatan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana engkau telah memberi berkat kepada Ibrahim dan keluarganya. (H.R. Bukhari, sahih Bukhari IV, hal : 76).

Ternyata dalam hadist ini bahwa shalawat yang diajarkan nabi tidak memakai “sayidina”. Bagaimana itu ???

Jawaban

Hal ini sudah lama diperbincangkan oleh Ulama-Ulama besar yang fatwanya Mu’tamad. Beliau-Beliau itu berkesimpulan sebagai berikut :

a)   Memang Nabi tidak mengajarkan “sayidina” ketika itu, tetapi beliau mengajarkan bacaan shalawat yang minim, yang paling kurang yang pasti dibaca.
Yang paling kurang adalah yang mesti dibaca adalah 4 unsur, yaitu :

اللهما  : Allahumma
صل  : shalli  
على  : ’ala
محمد :  Muhammadin
Kempat-empat unsur ini sudah dibaca dengan cukup.
Adapun bersayidina bukanlah mesti dibaca, tetapi yang lebih afdhal, yang lebih baik, karena lafadh yang dibaca dengan lidah adalah manifestasi dari sikap menghormati dan memuliakan nabi, dengan hati.
b)   Ada kemungkinan nabi Saw, tidak senang mengajarkan “sayidina” ketika itu, karena bacaan ini langsung menyangkut dengan diri beliau.
Beliau tidak suka menyombongkan diri, sebagaiman yang dikatakan oleh hadist-hadist yang lain.
Kalau diibaratkan dengan seorang presiden bila ditanyakan tentang bagaimana panggilan kepadanya; sebutan apa yang baik, pakai tuan besar, paduka atau lainnya ???
Kalau Presiden itu adalah orang yang tidak suka menyombongkan diri, tentu beliau akan menjawab : Ah,,, kepada saya panggil saja “saudara” atau sebut nama saja, itu sudah cukup.
Dalam hal ini bukanlah berarti kita dilarang untuk memanggil nama beliau dengan “paduka”, kalau kita memanggil presiden dengan nama saja, seolah-olah kita tidak sopan dan tidak hormat.
Memakai kata-kata “yang mulia” ketika berbicara dengan presiden adalah kata-kata manifestasi dari kesopanan dan akhlak yang baik. Begitu jugalah maksud bersayidina kepada nabi Saw, sebagai manifestasi dari kesopanan kita, penghormatan kita dan beradap.

Ketiga

Apakah membaca “sayidina” tidak menentang nabi ????
Beliau mnyuruh kita mengucapkan shalawat dengan tidak memakai “sayidina”, tetapi kita membaca pakai sayidina.
Bagaimana itu ??

Jawaban

Bukan, bukan !!! dalam hadist bukhari, nabi hanya menyuruh kepada kita mengucapkan shalawat, ini sudah kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Tetapi membaca “sayidina” adalah tambahan untu memuliakan atau menghormati beliau.
Membaca “sayidina” dalam mengucapkan shalawat berarti :
1)      Kita telah menjalankan perintah nabi dengan sebaik-baiknya,
2)      Kita telah melaksanakan adap dan sopan kepada nabi Saw.
Kalau mengucapkan shalawat tanpa “sayidina” berarti kita sudah menjalan perintah saja, tanpa memberikan penghormatan dan adap kesopanan.

Keempat

Andaikata terjadi pertentangan antar perintah dan adab dan kita harus memilih salah satunya, manakah yang akan kita dahulukan ???

Jawaban

Dalam hal itu terdapat dua fatwa, yaitu ada yang mengatakan suruhan musti didahulukan, dan ada yang mengatakan sebaliknya, yaitu adab dan sopan yang harus dilaksanakn terlebih dahulu.
Tersebut dalam kitab tauhid “syarqawi” syarah sanusi, bahwa fatwa yang rajih atau kuat adalahmenjalankan adb didahulukan daripada menjalankan perintah. (syarqawi, syarah sanusi, hal : 8).

Dalil dan pendapat ini tersebut dalam hadist bukhari dan muslim, bahwa pada suatu kali nabi Muhammad Saw, tidak berada dalam kota karena pergi kesuatu tempat untuk mendamaikan 2 kaum yang berselisih.
Setelah datang waktu sembahyang, nabi Saw, belum juga pulang, maka sayidina bilal pergi kepada sayidina abu bakar meminta kiranya beliau menjadi imam sembahyang karena nabi Saw belum pulang.

Sayidina Abu Bakar menyanggupinya.
Setelah sembahyang berjalan, kebetulan nabi Saw, datang dan langsung menuju ke shaf yang pertama,makmum dengan bertepuk tangan dengan memberi tahu kepada syidina Abu Bakar bahwa nabi sudah datang. Banyak makmum yamg memberikan isyarat dengan bertepuk sehingga sayidina abu bakar berpaling muka melihat nabi.
Nabi Saw, memberi isyarat dengan tangan beliau supaya sayidina Abu Bakar terus saj mengimani sembahyang itu, tetapi sayidina Abu Bakar ketika itu tidak menghiraukan isyarat nabi sehingga beliau mundur, kebelakang barisan shaf.
Dengan mundurnya sayidina Abu Bakar maka nabi Saw, langsung maju ke muka menggantikan sayina Abu Bakar menjadi imam sembahyang.

Setelah selesai sembahyang, nabi Saw, bertanya :
1.   Mengapa saudara-saudar bertepuk ? kalau terjadi sesuatu dalam sembahyang, maka untuk memberitahukan atau mengisyaratkan kepada imam haruslah dengan membaca “subhanallah”. Bukan bertepuk.
2.   “hai Abu Bakar” kenapa ketika saya isyarat kepada engkau untuk melanjutkan menjadi sebagai imam sembahyang tidak engkau terima ?? apakah yang mendorong engkau berbuat demikian ??
Sayidina Abu Bakar menjawab :”tidak layak bagi anak Quhafah berdiri sebagai imam di depan Rasulullah” (Dalilul Falihin, syarah riyadhus salihin II, hal : 48-52).

Dari hadist ini dapat diambil kesimpulan bahwa sayidina Abu Bakar mendahulukan penghormatannya, adb dan sopan daripada perintah Rasulullah, dan Rasulullah membenarkan itu.
Tetapi dalam membaca “sayidina” tidak terjadi pertentangan diantara suruhan dan adab yang harus dipilih salah satunya daripada itu.
Kedua-duanya dapat dijalankan serentak, yaitu mengikuti suruhan nabi dan melaksanakan penghormatan kepada nabi Saw.

Kelima

Kenapa untuk memuliakan nabi Saw, hanya dipakai kalimat “sayidina” ? sedangkan kalimat-kalimat lain yang menunjukkan penghormatan kepada nabi sangat banyak ?? umpamanya :
a.      Khatamun nabiyyin (nabi paling akhir)
b.      Sayidul mursalin (penghulu segala rasul)
c.       Imamul muttaqin (imam orang-orang yang bertaqwa)
d.      Rasulur rahmah (rasul yang membawa rahmat)
e.      Dan lain-lain.

Jawaban

Jawaban pertanyaan ini dibagi menjadi dua :
1.  Menurut fatwa ulama-ulama Ahlussunnah wal jama’ah bahwa boleh dan baik juga memakai kata-kata penghormatan apa saj dihadapan nama nabi, baik dalam shalawat atau dalam bebicara biasa.
Umpamanya kita katakan :
a.      Berkata nabi besar Muhammad Saw.
b.      Berkata pemimpin besar nabi Muhammad Saw
c.       Berkata junjungan kita nabi Muhammad Saw.
d.      Berkta yang mulia nabi Muhammad Saw.
e.      Berkata nabi akhir zaman sayidina Muhammad Saw.
f.        Berkata qaidul khafiri nabi Muhammad Saw.
g.      Dan lain-lain

Semuanya boleh dan semuanya baik, karena semuanya menunjukkan penghormatan kepada nabi yang mulia, yang tidak boleh adalah sebagaimana yang telah kami terangkan diatas, yaitu yang tidak sopan dan tidak hormat.
2.   Memakai sayidina dalam mengucapkan shalawat ialah mengamalkan dan mematuhi apa yang dikatakan nabi Saw,
Beliau bersabda :
انا سيد ولد ادم يوم القيامة
Artinya :”saya adalah penghulu sekalian anak adam di hari qiamat. (H.R Muslim XV, hal :37).

Kita ummat islam harus bahkan wajib menyambut dengan kedua telapak tangan, dan langsung mengamalkannya dengan meletakkan kata-kat sayidina dihadapan nama nabi Saw,
Patuh dan tha’at kepada rasulullah adalah hakikat dari agama kita islam yang suci ini.

Penutup

Demikianlah sekelumit pembahasan tentang membaca “sayidina” dalam mengucapkan shalawat kepada nabi Saw, mudah-mudahan dapat dipahami dan dimengerti oleh kita selaku ummat islam seluruhnya, sehingga kita dapat menghormati nabi Saw, melebihi dari segala-galanya.

MARILAH KITA MENGUCAPKAN BERSAMA-SAMA KALIMAT UNTUK MENGHORMATI NABI MUHAMMAD SAW.


اللهما صلى على سيدنا محمد عبدك ورسولك النبي الامي وعلى اله واصحابه وبارك وسلم

Hay tamuku,Trimakasih sudah membaca Tak perlu diributkan pada permasalahan ucapan Sayidina ,Silahkan bagikan artikel Tak perlu diributkan pada permasalahan ucapan Sayidina kepada teman anda!
Share on :
 
 
Support : Al-Fata | Ijal Mantap |
Copyright © 2013. Goresan ijal mantap - All Rights Reserved
Di Design Ulang Oleh I Template Blog Published by I Template Blog
Proudly powered by Blogger